Tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya akan mengalami hal ini,
sungguh. Satu-satunya literatur yang sempat
saya baca sebelum berangkat adalah Awas Scam... Pada literatur tersebut
dikatakan bahwa jika kita memfoto orang-orang di India, mereka akan meminta
bayaran atas foto tersebut, semakin banyak orang yang difoto makin banyak kocek
yang harus dikeluarkan dari kantong.. Fiuh.. Lalu apa yang sebenarnya
terjadi pada kami di India?
Hal ini betul-betul kejadian, ga boong, bukan rekayasa, tidak
mengada-ada.
Cerita berawal saat kami berada di kota kecil bernama Varanasi. Salah satu tempat yang kami kunjungi hari itu adalah Viswanath Temple. Tepat pukul 12:00 kami tiba di tempat tersebut, sayangnya kebanyakan temple tutup pada waktu tersebut dan akan dibuka kembali pukul 13:00. Sambil menunggu jam buka kembali kami mulai mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa sudut yang menarik yang bisa difoto. Alangkah senangnya kami ketika melihat pendeta hindu lewat, dan pastinya kami mendekat untuk minta foto dengan beliau. Sewaktu bersiap akan mengambil foto, beberapa pemuda mendekat ke arah berdirinya kami dan pendeta, tak apalah mungkin pemuda-pemuda tersebut ingin berfoto bersama pendeta hindu juga. Catatan dalam hati : cukup satu foto saja kalau lebih dari satu bahaya bisa jadi alasan mereka minta duit, banyakan pula yang ikut foto. Klik.

Setelah makan siang, pintu gerbang Viswanath Temple dibuka kembali, kami pun menitipkan sepatu dan mulai masuk ke dalam Temple tersebut, sembari melihat-lihat dan mengambil foto, ada sosok anak kecil yang sepertinya tadi ikut berfoto bersama pendeta mendekati saya, sambil memegang kameranya, tangannya menengadah ke saya dan senyum-senyum, ga ngerti maksudnya apa, saya pun ikut tersenyum lalu terus mengambil gambar Temple menjauhi anak itu. Terkejutlah saya saat sibuk mengambil foto dan berbalik melihat ke belakang, saya mendapati teman seperjalanan saya mbak Lita sudah dikelilingi pemuda-pemuda India yang minta berfoto bersama.. Ditambah lagi ketika Mbak lita menghampiri saya dia bilang : "Busyeet gw digilir La, minta foto satu-satu, mana bau pula"... Saya ngakak sengakak ngakaknya... Oooo ternyata maksud si pemuda tadi mau minta foto bersama. Belum habis ketawa saya, setelah itu saya dihampiri bapak dengan 2 anaknya, katanya anaknya mau minta foto bareng. Serentak saya tarik mbak Lita biar ga jadi korban sendirian. Cheers
 |
| Viswanath Temple |
 |
| mbaknya senyum2 pas diminta foto, mereka duduk satu meja dengan kami saat makan siang |
Berapa menit kemudian, datang lagi keluarga yang ternyata dari Punjab minta berfoto dengan kami..
Kami pun layaknya seleb (wae - dadakan) mencoba ramah dan mengapit ibu-ibu Punjab itu..
Takut urusan foto-foto ini terus berlanjut, kami pun izin beranjak mengingat supir autoricksaw (bajaj) yang kami charter sudah sejam lebih menunggu kami di tempat parkir.
Tujuan kami selanjutnya adalah Rannagar Fort & Museum. Pertama kali kami merasakan off-road pake bajaj. Jalanan berbatu-batu yang tadinya kami anggap asyik, lama-lama bikin pantat panas dan kami pun mulai pakai cadar penutup hidung untuk menghalau debu yang masuk. Syukurlah setelah hampir 1 jam melewati jalan pembuat-tepos itu akhirnya kami melihat jembatan dan laut yang menandakan Fort sudah hampir dekat.
Sesampainya disana kami langsung menuju loket dan dengan agak kesal kami membayar harga masuk yang sangat dikriminasi karena orang lokal hanya membayar Rs 20 sedangkan kami Rs 150 Errrr.
Kaget yang lain pun kami alami karena pada saat mengambil gambar di dalam museum ada seorang bapak yang menegur sambil menunjuk saya (yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah nasib kamera saya).. Ya kami agak bandel menggunakan kamera yang memang seharusnya tidak boleh didalam museum, tapi kebandelan itu juga beralasan karena kami melihat orang lokalnya saja boleh jepret-jepret. Mampus gw kalo gara-gara ngambil foto diam-diam masa harus bayar denda Rs 25.000, secara budget kami kelililng India seminggu lebih sedikit biayanya dari denda itu. Mamak.
Tapi ternyata bapak itu hanya mau melihat tiket kami saja,, "Mbak Lita, cepat kasih lihat tiket kita", sambil tangan saya dengan sigap menyembunyikan kamera ke balik tas. Mbak Lita pun gelagapan saat menjulurkan tiketnya. Saya berjingkrak pelan agak menjauh dari tempat TKP itu dengan muka lempeng hahahaa.
Sudah selesai urusan pertiketan, sepertinya mbak lita masih ga tenang juga... Pengen buru-buru pergi dari Fort itu. Saya yang memang masih ingin jalan-jalan dan menikmati tempat agak merasa aneh dengan perubahan sikap mbak Lita. " Iya,sebentar lagi, ntar ya, ayo kita foto-foto lagi".. "Kesana mbak, sini aku fotoin lagi.. Disana juga, aku gantian fotoin".
Masih gelisah juga mbak Lita tetap minta pulang cepat-cepat.
"Ayo dong La pulang, itu makin banyak yang ngikutin."
Apa sih mbak.. Entah baru ngeh atau baru merhatiin, sampai akhirnya Jrenng, ketika saya melihat ke belakang kali ini bapak-bapak yang mulai deketin sambil senyum-senyum.
Dan sudah hampir sampai ke ujung gerbang, ketika terdengar suara pemuda yang berkata " one shot madame"
Hah? Saya stay cool ambil foto sana sini..
Saya pindah tempat, beberapa pemuda ngikutin di belakang "one shot madame"
Tetap ga ngegubris, rombongan pemuda makin ramai di belakang ngeliatin kami action depan kamera
" one shot madame, please, one shot madame"
Saya mulai tersadar, dan jalan agak cepat, mbak lita udah jauh di depan
Pleaasssee madame, Please one shot.
Di depan gerbang keluar kami pasrah dikelilingin sekitar 20-25 orang pemuda yang mau berfoto bareng.
Jiaaahhh mbak, pantesan lu mau ngajakin cepat-cepat keluar mulu...
Ga berenti sampai disitu, salah satu pemuda meminta kami bergeser dari kerumunan dan diminta berpose di depan patung meriam, temannya yang lain diusir ga boleh dekat-dekat, dia maunya hanya kami bertiga yang difoto, oke deh kita kasih.
Tapi setelah itu mulai ada tanda-tanda pemuda yang lain request hal yang sama.
Tanpa ba bi bu lagi saya dan mbak Lita lari cepat sambil dadah dadah ke semua pemuda itu.
Kami langsung masuk bajaj dan minta supir cepat2 cabut dari Fort itu
Di dalam bajaj, tawa kami lepas masih ga habis pikir kenapa bisa segitunya mereka pengen foto bareng.
Mbak Lita ngamuk-ngamuk,,,, tuh kan gw bilang juga apa buruan keluar, mereka udah ngikutin kita dari atas tower tau, makin lama makin banyak, muter lapangan makin serombongan...
HAHAHAHAHA kapan lagi jadi superstar di India
 |
| Bayangin dari atas tower ini terus keliling putaran sampai keluar lewat samping kiri. |
 |
| Yang difoto gelisah |
Note : Saat di kereta menuju Agra kami ketemu dengan pengamen banci yang kayaknya gemes banget dengan kami berdua, dia pukpuk kepala kami masing-masing dengan senyum super manisnya, penumpang lain dia godain, tapi ke kita kedipin mata doang ga ganggu sama sekali :)
- one story about India-