Cordoba, Andalucia, Spain

21 January 2013

Siang itu adalah hari ketiga saya berada di Barcelona, Spain. Setelah membuka peta yang saya dapat dari Hostel St Christoper Barcelona, ada beberapa tempat yang perlu saya kunjungi dalam waktu empat jam terakhir di Barcelona. Ya empat jam lagi sebelum saya terbang ke kota kecil bagian Spanyol di Andalucia yaitu Cordoba. Saat itu saya sedang berada di atas Placa De Espanya,National Palace of Catalonia,Barcelona. Barcelona adalah kota yang hangat baik udara maupun orang-orangnya, paling hangat dibandingkan negara eropa lain yang saya kunjungi karena letaknya di selatan. Di atas Placa De Espanya ini saya menikmati semilir angin, alunan musik jalanan serta pemandangan kota. Lama saya duduk ditemani alunan musik yang tenang tersebut, kalau tidak mengingat waktu yang tersisa rasanya mau berada disana hingga sore :)




Setelah Placa De Espanya, sebenarnya ada 3 lagi tujuan saya hari itu,  tapi karena keterbatasan waktu saya hanya bisa mampir mengunjungi House of Gaudi dan Casa Battlo. Seperti halnya tempat wisata lainnya,sesampai disana sudah banyak orang yang berpose. Sekadar hanya ingin tahu saya pun hanya menghabiskan sebentar waktu disana dan kembali ke hostel untuk mengambil backpack dan check out. Pelan sekali langkah saya menyebrangi Placa Catalunya, berkali-kali saya melewati daerah tersebut karena kebetulan hostel saya dekat area Catalunya, ingatan tentang keramaian malam hari disana, atau kerumuman anak kecil yang bermain dengan burung-burung yang memenuhi Catalunya di pagi dan sore hari. Saya akan kembali Barcelona.

Rencana saya selanjutnya adalah mengunjungi teman saya di Cordoba, Andalucia. Sebenarnya Andalucia adalah bagian dari Spanyol yang terdiri dari 3 kota yaitu Seville/ Sevilla (Read: Sofia), Granada dan Cordoba. Lalu apa istimewanya Cordoba? :)


"Ke Cordoba gimana La",tanya saya ke Arla. Ga ada pesawat langsung ke Cordoba, kamu harus naik pesawat ke Sevilla lalu menyambung bus atau train ke Cordoba." Ok, nanti aku cari info dulu.

Mulailah saya mencari maskapai penerbangan murah yang sesuai dengan rute agar membentuk loop yang bagus pada rangkaian eurotrip saya.

Hingga 2 minggu sebelum keberangkatan ke europe saya pun mengabari Arla :

"La, aku jadi kesana ya pakai Ryan Air 17:55-19:45 Barcelona Sevilla. Kayaknya masih ada kereta malam kalau mau langsung ke Cordoba, aku cek jam terakhir ada 21:35. Berarti aku sampai Cordoba sekitar jam 22:00-23:00, aman ga?". "Aman koq tenang aja nanti aku jemput di Stasiun Cordoba Central". Ok Siiip Cu.

Info dari www.renfe.com, Sevilla Santa Justa to Cordoba Central 02411 AVE 20:18, 20:30,  21.15 , the lastest 21:35, 43 min-1hour12min, EUR 11, tapi harga yang saya beli saat itu adalah EUR 13. Memang ada kereta langsung dari Barcelona ke Cordoba dan waktu tempuhnya juga hampir sama dengan total saya naik pesawat sambung kereta ke Cordoba, tapi kalau dilihat dari segi harga kereta langsung Barcelona Cordoba harganya bisa 3 kali lipat dibanding jika saya menggunakan budget airlines+kereta. Selain itu, ada perbedaan harga juga terjadi jika kita naik kereta yang lebih cepat. Misalnya jika saya naik kereta jam 20:30 dengan jarak tempuh 1 jam 12 menit seharga EUR 13, tapi jika saya naik kereta jam 21:15 jarak tempuh 43 menit harganya menjadi EUR 30. Jadi saya harus ngebut dari Sevilla Airport ke Sevilla Santa Justa untuk mengejar kereta yang murah pukul 20:30 hehee *taktik*

Setelah sampai Sevilla Santa Justa saya langsung menuju penitipan barang, karena hanya 2 hari saya berada di Cordoba dan dalam usaha mengurangi beban di pundak, saya pun hanya membawa daypack berisi barang-barang yang saya anggap penting, selebihnya ransel saya tinggalkan di loker dengan biaya sebesar EUR 2,7. Lalu saya menuju loket pembelian tiket, tinggal beberapa menit sebelum keberangkatan, mencari platform dan membeli sebotol air mineral. Hap saya sudah berada di kereta menuju Cordoba. Sebelum tidur saya mengirimkan sms ke Arla yang berbunyi : "La,aku sampai Cordoba jam 21:50 ya.", kemudian menyetel alarm 10 menit sebelum waktu sampai. "Ok ella jangan sampe ketiduran ya."balasan Arla. Saya pun tidur sebentar ala ayam.




Sampai Cordoba tepat waktu, Arla mengirimkan sms masih otw stasiun. Saya menunggu sebentar sambil mengamati stasiun yang sudah sepi. Walaupun kami baru pertama kali bertemu,tidak susah mengenali Arla yang datang. Rasanya seperti ketemu teman lama, entah karena sebulan sebelumnya kami intens kontak, atau mungkin karena berada jauh dari Indonesia, bertemu orang Indonesia seperti bertemu saudara. Senang :)

Esok harinya, sebelum menjelajah kami sarapan Croissant dan Juice. Tentunya saya mandi dulu, lucunya toilet di Cordoba ada 2. Sorry, satu yang berlubang tempat kita membuang hajat tanpa penyiram,satu lagi di tempat yang berdekatan ada seperti wastafel duduk yang ada semprotan untuk membasuh bagian bawah. Jadi saya berpindah dari tempat toilet satu ke satunya lagi untuk menyelesaikan urusan toilet hehe. Mengkin karena dulu Cordoba dihuni oleh umat Islam jadi bentuk toilet dan kebiasaan membasuh masih diturunkan sampai sekarang walaupun sekian lama umat Islam sudah diusir dari Cordoba.

Mulailah kami pakai coat tipis dan boot untuk keluar berjalan-jalan. Tujuan utama adalah mengunjungi Mezquita. Kami melewati "alun-alun kotanya" Cordoba  dengan pancuran air dan patung ksatria kudanya. Area itu bernama Plaza de Las Tendillass. Lalu kami melewati jalan kecil dengan rumah-rumah yang berdempetan. Kata Arla, bila musim panas datang, pada dinding rumah tersebut banyak terpasang bunga-bunga, persis seperti film telenovela. Berarti jalan yang saya lewati ini seharusnya full of flowers kanan kiri saat musim panas. Yang punya hidung sensitif bisa bersin-bersin sepertinya :p








Sebentar kemudian kami sudah mencapai gerbang Mezquita. Harga masuk Mezquita adalah sebesar EUR 8. Ya karena Cordoba kecil kemana-mana gampang, bisa ditempuh dengan jalan kaki, apalagi saya punya "maaf, guide yang fasih menjalankan tugas negara nya" :p

Mezquita (Mosque & Cathedral of Cordoba) adalah Masjid yang dibangun semasa periode Abdul Rahman pada 785 sebagai ibukota Al-Andalus di situs gereja kuno San Vicente. Saat memasuki ke dalam Mezquita kita bisa melihat perpaduan Kristen dan Islam. Nuansa Kristen tetap dipertahankan di Mezquita akan tetapi penempatannya tersendiri di suatu ruangan ataupun paling tidak berada di dalam pagar besi. Pilar-pilar mendominasi hampir seluruh Mezquita dengan bagian atas melengkung setengah lingkaran bercorak merah. Saya merasakan uniknya di dalam sana karena perpaduan Kristen dan Islam masih dilestarikan, dan Mezquita adalah Masjid paling cantik yang pernah saya lihat di Eropa.




Pelataran Mezquita dihiasi pepohonan dengan buah jeruk kecil yang ranum, walaupun di musim dingin jumlah jeruk tergolong banyak, tapi sayang ga bisa dimakan atau lebih ke takut memetik dan memakannya. Lonceng gereja pun masih tetap berdiri di kompleks Mezquita dengan alasan yang sama.




Begitu keluar dari komplek Mezquita jangan heran jika ada wanita yang menghampiri sambil memberi bunga, silahkan tolak saja secara halus karena jika anda terima maka anda akan diminta uang. Cukup banyak yang menghampiri jadi siapkan senyum manis saja untuk menolaknya. Kami pun berjalan menuju Roman Bridge. Sepanjang perjalanan kami bertemu nenek berkerudung kecil model petani, kereta kencana hitam kolosal, ada juga wanita yang sedang menghidupkan lilin sambil berdoa. Cordoba memiliki ciri-ciri kota kecil, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari orang lokal selain modernnya metro ataupun jejeran pertokoan. Etapi ternyata Eropa juga bisa potensial banjir loh, terlihat dengan sungai dibawah Roman Bridge yang mulai tinggi. 

Sudah hampir sore, kami pun mampir ke beberapa toko souvenir, Arla yang sebentar lagi  juga akan pindah dari Cordoba ikut membeli kenang-kenangan. Kebanyakan bergambar Mezquita, gitar, wanita dengan rok lebar bunga-bunga yang sedang menari salsa, banteng dan matador yang sekarang sudah tidak menjadi sebuah atraksi lagi di Spanyol.





Sebelum kembali ke apartment Arla mengajak mampir ke cafe kecil, kami memesan Churros dan secangkir cokelat panas. Cukup ekonomis untuk 1 porsi churros dan 2 cokelat panas hanya EUR 6.




Seharian berkeliling Cordoba, perut sudah terisi tapi sampai apartment Arla yang baik menawarkan Indomie Goreng, telor goreng lengkap dengan sambal Indofood. Saya yang sudah beberapa pekan ga kena lidah Indonesia, langsung mengangguk dan semangat masak. Jauh-jauh ke Cordoba, demennya tetap Indomie Goreng. Delicioso. Lascivo.

Subuh esok harinya saya harus melanjutkan perjalanan lagi, kali ini saya naik bus menuju Sevilla, berkeliling alias nyasar sebentar di Sevilla, mengambil ransel di loker stasiun lalu menuju airport untuk terbang ke Paris dengan pesawat Ryan Air.




To Arlavinda: Muchas gracias por las calles para que me acompanara, asi que estoy perdido ^ ^


1 comments:

Post a Comment