Home » Archives for June 2013
Visa on Arrival (VoA) India
Kalau mau lihat riweuhnya kelurahan. Maka cobalah untuk mengajukan Visa on Arrival India, niscaya kalian akan bersyukur kelurahan kita masih menang jauh :)
So manual.
Siang hari itu kami tiba di bandara kalkuta India, karena malas bikin visa India di Jakarta, maka kami pun langsung berangkat ke India dan mengajukan langsung Visa on Arrival disana.
Bandaranya kecil sekali, celingak celinguk, akhirnya sesama penumpang AA menunjukkan saya dimana harus mengambil formulir pengajuan visa. Lalu masuklah kami ke ruangan kecil agak busuk ;p. Sofa lusuh, lemari debu penuh dengan tumpukan buku, meja petugas dan buku besar.
Saat masuk kami bertemu orang Indonesia juga yang sepertinya sudah lama berada disitu. Kami segera mengisi formulir pengajuan visa tersebut. Hal yang sudah kami siapkan sebelum berangkat untuk apply visa on arrival adalah copy reservasi hotel selama di India dan foto 3x4cm berwarna.
Lucunya setelah semua berkas selesai diisi, mereka (setidaknya ada 3 orang petugas) menuliskan banyak data seperti nama, no passport, masa tinggal, rencana perjalanan, nama hotel di buku besar mereka masing-masing seperti buku cicilan panci tapi versi besarnya. Jika ada 3 orang petugas disana, maka mereka akan menuliskan hal yang sama di ketiga buku besar mereka. Alamak syukurlah kami tidak terlalu terburu waktu, melihat mereka menuliskan satu-satu secara manual sungguh perlu kesabaran. Satu-satunya teknologi didalam situ adalah mesin printer besar dan 2 komputer jadul. Mungkin nanti visanya akan di print menggunakan printer tersebut.
Selang beberapa waktu, yang terjadi setelah itu adalah petugas pembuat visa ini mengangkat stempel besar kotak dan menekankan stempel besar tersebut ke lembar passport kami. Iya benar-benar stempel kotak besar seukuran satu halaman passport, disana mereka bubuhkan tanggal datang dan tanggal masa berlaku habis, dengan pulpen saja *EekkOokk*
Kemudian kami diminta biaya visa sebesar Rs 3300, tidak bisa menggunakan USD seperti informasi yang kami dapatkan sebelumnya. Jangan cepat khawatir, ada satu petugas yang bertugas mengantar kami menuju loket imigrasi, mulailah percakapan antara petugas tersebut, petugas melihat ke arah kami, berbicara sebentar lalu membubuhkan cap kecil di passport lalu kami dibawa ke money changer. Iya kami tukar uang dulu di luar loket imigrasi. Karena nilai tukarnya rasional, maka kami menukarkan uang di money changer tersebut. Setelah selesai urusan tukar uang, kami lewati loket imigrasi yang tadi lagi untuk kembali masuk ke dalam ruang kecil tempat pengisian berkas. Eaaaa bisa-bisanya keluar masuk loket imigrasi seenak jidat.
Tapi koq mahal ya jangan-jangan kami ditipu karena info sebelumnya biaya pembuatan visa hanya sebesar Rs 3000, loh koq ini Rs 3300. Misuh-misuh masuk ruangan akhirnya kami mendapatkan jawaban atas teka-teki biaya tersebut dengan menerima kuitansi pembuatan visa resmi sebesar Rs3300. (maap suudzon)
Passport sudah ditangan, VoA selesai. Sekeluarnya dari ruangan kami pun berhenti di depan loket imigrasi dan apalah itu saat mau mengantri loket imigrasi lagi, si petugasnya malah mempersilahkan lewat saja gitu... Ga diperiksa apa-apa lagi. *EekkOokk*
Sebelum jauh dari loket imigrasi kami periksa dulu keaslian dan keberadaan VoA di passport kami, agar jangan terjadi masalah kemudian.
Dan terlihatlah stempel besar kotak dengan tulisan tangan manusia di passport kami seharga Rp546.000 jika dikonversi ke rupiah.. Mahal... Visa ter"sederhana" yang selama ini nempel di passport.
Welcome to Indiahe.. What will be, will be :)
Note :
Kalau ada waktu leluasa bisa lakukan pengajuan visa di kedutaan besar India di Jakarta atau minta bantuan travel agent.
Pssst. Hal yang sama terjadi saat check in hotel di India (paling tidak di hotel yang kami tempati di beberapa kota, memang bukan bintang 4 atau bintang 5 sih), buku besar selalu ada di depan receptionist. Kami pun selalu harus menunggu prosesi manual tulis tangan saat check in dan check out. Pada hari ke-5 saya berada di India, receptionist hotel di Agra yang sedang menjalankan tugasnya menemukan bahwa tanggal expired visa di passport mbak lita si seleb India, 23/02/2013 - 24/02/2013. Padahal kami baru pulang tanggal 1 Maret 2013. Sempat sedikit panik, saya kalem menunjukkan contoh VoA passport saya yang seharusnya sama dengan VoA mbak lita yaitu 23/02/2013 - 24/03/2013. Dan dengan mudahnya si bapak receptionist itu mengganti tanggal di VoA dengan pulpennya dari angka 02 menjadi 03 *EekkOokk lagi*. Saya pun terkesima dengan perbuatan yang beliau lakukan itu, sambil tersenyum, ngikik campur ngeri :)
Yogyakarta, Kembali dan Kembali lagi
25 May 2013
Ingat saya tentang masa kecil saat berkunjung ke Yogyakarta, Ingat pula saya saat bersama keluarga kembali ke Yogyakarta pada libur lebaran karena kebetulan kampung papa, Solo, adalah tetangga Yogyakarta, dan untuk kesekian kalinya, saya kembali ke Yogyakarta.
03:45 dini hari kereta yang membawa saya dari Jakarta sampai di Yogyakarta, saya membuat janji dengan Fina untuk bertemu di Stasiun Tugu Yogyakarta karena kebetulan kereta tanggal itu penuh sekali sehingga walaupun sama-sama bertolak dari Jakarta, kami berada di kereta yang berbeda, hanya selisih setengah jam. Saya iseng bertanya ke penumpang sebelah : "Mas-mas, ini kereta penuh sekali ya, mungkin karena mau ada perayaan Waisak." Namun si mas sebelah saya berkata jika weekend memang kereta penuh karena banyak yang sekolah atau bekerja di Jakarta pulang ke Yogya sekitarnya saat weekend. Oh begitu, saya mengangguk tapi tetap perasaan saya mengatakan Yogya akan penuh sekali minggu itu, percaya deh.
Dalam survival guide saya , ada catatan naik becak ke Edu Hostel harganya 10ribu. Banyak becak yang menawari jasanya, banyak pula yang kami tolak karena kekeuh dengan patokan harga itu. Sempat terpikir apakah kami akan jalan kaki saja, karena katanya dari stasiun ke Edu Hostel jaraknya dekat sekali. Sampai di ujung stasiun akhirnya ada juga becak yang mau ke Ngampilan dengan harga 10ribu itu hehee. Udara hampir subuh di Yogya segar sekali, sudah mulai ada tanda kehidupan walau langit masih gelap. Awalnya kami nyengir lebar saat naik becak pertama di Yogya hari itu sampai akhirnya kami mingkem karena kasihan dengan tukang becak yang mengangkut kami. Ternyata jaraknya cukup jauh, karena kasian dan takut bapaknya misuh-misuh kami membayar becak seharga 15ribu ketika sampai di Edu Hostel.
Setelah menitipkan tas di receptionist hostel dan kebabalasan tidur sebentar (Re: 2 jam) di lobby, kami pun keluar mencari sarapan.. Taraa 500 meter dari hostel ada nasi kuning komplit dengan tempe, teri, telur ceplok, sambal, kerupuk dan teh hangat enak banget seharga 5ribu saja.
Sudah cukup mengisi energi kami kembali ke hostel untuk bebersih dan bergabung dengan rombongan lain yang sudah sampai lebih dulu. Menyambung sarapan di Soto Kadipiro dan membeli camilan arum manis disana.
Pemberhentian pertama : Alun-alun Kidul (Selatan) dan Wringin Kurung.
Ada mitos yang mengatakan dua beringin ini adalah lambang keteguhan. Mitos itu menguntungkan bagi pedagang ikat penutup mata, karena kerap banyak pasangan yang melakukan uji coba berjalan lurus menuju tengah kedua beringin untuk tes keteguhan. Akan menjadi pemandangan yang lucu jika ada dua pasang yang berjalan bersama di awal namun mulai menjauh, lebih ke kanan atau lebih ke kiri alih-alih seharusnya menuju ke tengah beringin. Namun ada juga yang berhasil lurus ke tengah antara kedua beringin, katanya sih pertanda teguh memilih jalan hidupnya. Ya kembali lagi itu hanya sebuah mitos
![]() |
| Alun-alun Kidul |
Pemberhentian kedua : Taman Sari & Masjid Bawah Tanah Yogyakarta
Taman Sari Yogyakarta dulunya digunakan oleh Selir Sultan dan Putri kerajaan untuk mandi. Konon Selir sudah punya "tempat pemandiannya" masing-masing dan Sultan bisa mengakses penglihatan saat Selir-selir itu mandi dari menara tengah. Ckckck
![]() |
| Kolam pemandian selir dahulu |
Masih di Taman Sari Yogyakarta, kami berjalan menuju Masjid bawah tanah Taman Sari. Alangkah senangnya kami, dalam perjalanan menuju Masjid bawah tanah kami melihat kanan kiri dinding penuh lukisan pengantin jawa, batik dan petruk gareng semar.
![]() |
Masjid bawah tanah ini hanya dibuka umum sampai dengan jam 4, padahal saat malam mungkin akan lebih syahdu karena bagian dalam masjid akan dipasang lampu obor. Sayangnya saat kami mengunjungi Masjid ini sedang ada sesi foto dengan model yang berpakaian cukup terbuka sehingga menjadi tontonan pengunjung dan kami tidak bisa mengambil foto bagian tengah karena sudah di monopoli oleh tim fotografinya.
![]() |
| Masjid bawah tanah Taman Sari |
![]() |
| Es kencur di depan Taman Sari |
Pemberhentian Ketiga : Keraton Yogyakarta & Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta
Gambar dibawah ini adalah Bangsal Mangunturtangkil. "Bangsal ini dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono saat menghadiri upacara Garebeg Pasa, Garebek Besar maupun Garebek Mulud, selain itu juga dipergunakan saat seorang Pangeran/ Putra Mahkota dinobatkan menjadi SultanYogyakarta. " bunyi yang tertulis di depan bangsal. Jika mau melihat proses upacara pengangkatan Sultan sekalian ngadem di ruangan ber-AC, ruang film disediakan Keraton secara gratis. Di sebelah ruang film ada satu ruangan besar lain yang berisi galeri foto-foto kereta kencana. Tentunya kita bukan hanya melihat foto nya saja tapi juga bisa melihat fisik utuh kereta kencana yang masih terawat dan masih bisa digunakan di Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta. Jadi kita bisa membandingkan design kereta dalam foto dengan kereta kencana aslinya.Tarif masuk Taman Sari & Museum Kereta Kencana @ Rp. 3.000, sedangkan Keraton Yogyakarta Rp. 5.000
| Kareta Kyai Garuda Yeksa |
Pemberhentian Keempat : Candi Borobudur, Magelang
Whuooo seperti perkiraan sebelumnya, kawasan Candi Borobudur hari itu tumplek manusia. Sepertinya dunia sedang menyorot Candi Borobudur dan menunggu detik-detik perayaan Waisak disana. Mulai dari jalan menuju Borobudur sudah padat sejak siang, kami inisiatif untuk berjalan kaki karena rasanya dengan jalan kaki akan lebih cepat sampai dibandingkan naik mobil, bottle neck terjadi antara jalan arah ke pasar dan ke kanan kawasan parkir Candi. Setelah membayar masuk sebesar Rp. 30.000, melewati tempat pemeriksaan tas, kami pun masuk ke kawasan tersebut. Baguslah ada larangan tidak boleh membawa makanan dan minuman, kebayang jika dibolehkan pasti sampah berserakan dimana-mana. Sore itu saya lama duduk di bagian tengah candi, niatnya istirahat sambil menunggu twilight, jadinya malah asyik people watching, terlihat di bawah dan di tangga ke atas banyak orang seperti sarang semut, melihat orang yang hilir mudik di depan saya, yang cewek cantik-cantik, yang bawa kamera DSLR berat banyak banget. Dalam hati haduh kasian candinya makin turun menahan bobot pengunjung (kalau bisa punya jurus meringankan badan deh), kasian kalau ada yang masih naik ke stupa candi padahal woro-woro petugas sudah jelas sekali tentang larangan itu, pegang-pegang batu pakai tangan. Jangan dong :(
Akhirnya saya mulai beranjak berjalan mengelilingi candi. Terlihat di beberapa titik, umat Budha yang sedang beribadah, ada pula Bhiksu yang berkeliling candi setelah melakukan pawai. Makin sore, makin sesak Borobudur dengan ribuan (mungkin) manusia.
Tips 1 di Borobudur : Silahkan selesai urusan toilet dan menjaga makan sebelum masuk
pelataran Candi, karena jika sudah sampai di atas taunya kebelet atau
sakit perut, jauh sekali untuk mencari toilet yang ada di dekat pintu
masuk yaitu sekitar Museum, teman kita pun niscaya ga mau nemenin turun
lagi karena jaraknya yang jauuh di bawah. Kalau kiranya tetap kebelet,
ambil batu kecil genggam erat-erat, mudah-mudahan bisa menahan pup
sementara, walaupun kadang terasa, ilang, terasa, ilang seperti derita
saya waktu itu.
Hari sudah mulai malam, hujan rintik turun. Schedule mulai upacara sebetulnya jam 7 malam tapi mungkin karena kondisi macet beberapa pihak yang terlibat memberi pidato pembukaan terlambat datang. Makin malam pengunjung yang tidak sabar gelisah. Ketenangan waisak pun terganggu karena gaduh pengunjung yang meng hu hu kan pejabat yang telat datang tersebut terlebih karena ada kesan menyisipkan promosi pemilu yang tidak berhubungan dengan Waisak dalam pidatonya. Hujan semakin deras malam itu, mulai banyak yang melakukan refund pembelian lampion karena memperkirakan pelepasan lampion tidak bisa dilakukan. Saya berembuk dengan teman-teman akhirnya memutuskan untuk bersiap pulang.
Tips 2 di Borobudur : Jika pergi dengan rombongan, usahakan jangan terpisah karena akan agak sulit melakukan komunikasi di area Borobudur karena sinyal sering SOS. Kecuali mempunyai telepati dan ikatan batin yang kuat, dan ajaibnya kami bisa menemukan suami (sebut saja Mbak X) yang hilang malam itu tanpa bantuan HP.
Tips 3 di Borobudur : Sedia Payung & Raincoat, karena areanya terbuka total langsung di bawah langit, jika hujan deras cukup dan lama, pakai raincoat saja bisa tembus.
Tips 4 di Borobudur : Saat Waisak, jangan gunakan pintu masuk sebagai pintu keluar, karena sudah ditutup pada malam hari, tanyalah kepada satpam dimana pintu keluar saat baru masuk kawasan Borobudur agar tidak memutar saat jalan pulang.
![]() |
| altar tempat umat Budha sembahyang |
22:30 Hal terakhir yang saya ingat sebelum pulang adalah masih diadakan prosesi Bhiksu dan umar Budha mengelilingi Borobudur. Petugas dengan sigap menjaga jalan untuk mereka lewat dan ada border dimana pengujung tidak boleh menghalangi jalan. Mengenai kisah sedih tentang Waisak yang beredar di sosial media dan berita, saya hanya mengatakan iya, memang benar adanya bahwa sangat disayangkan masih ada yang belum paham artinya toleransi dan menghargai hidup beragama, sehingga ada beberapa tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan dan ada area-area yang tidak boleh disentuh dan dilarang masuk, terlanggar.
Jika punya waktu lebih, akan lebih bagus menambahkan beberapa hari lagi ke Yogya untuk mendatangi pantai-pantai seperti : Pantai Indrayanti, Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Drini, Pantai Sundak. Air terjun Jogan - Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dll. Masih banyak pantai yang belum saya kunjungi di Yogya, sengaja biar ada alasan untuk kembali lagi tahun depan :))))
![]() |
| Pantai Kukup |
Cordoba, Andalucia, Spain
21 January 2013
Siang itu adalah hari ketiga saya berada di Barcelona, Spain. Setelah membuka peta yang saya dapat dari Hostel St Christoper Barcelona, ada beberapa tempat yang perlu saya kunjungi dalam waktu empat jam terakhir di Barcelona. Ya empat jam lagi sebelum saya terbang ke kota kecil bagian Spanyol di Andalucia yaitu Cordoba. Saat itu saya sedang berada di atas Placa De Espanya,National Palace of Catalonia,Barcelona. Barcelona adalah kota yang hangat baik udara maupun orang-orangnya, paling hangat dibandingkan negara eropa lain yang saya kunjungi karena letaknya di selatan. Di atas Placa De Espanya ini saya menikmati semilir angin, alunan musik jalanan serta pemandangan kota. Lama saya duduk ditemani alunan musik yang tenang tersebut, kalau tidak mengingat waktu yang tersisa rasanya mau berada disana hingga sore :)
Setelah Placa De Espanya, sebenarnya ada 3 lagi tujuan saya hari itu, tapi karena keterbatasan waktu saya hanya bisa mampir mengunjungi House of Gaudi dan Casa Battlo. Seperti halnya tempat wisata lainnya,sesampai disana sudah banyak orang yang berpose. Sekadar hanya ingin tahu saya pun hanya menghabiskan sebentar waktu disana dan kembali ke hostel untuk mengambil backpack dan check out. Pelan sekali langkah saya menyebrangi Placa Catalunya, berkali-kali saya melewati daerah tersebut karena kebetulan hostel saya dekat area Catalunya, ingatan tentang keramaian malam hari disana, atau kerumuman anak kecil yang bermain dengan burung-burung yang memenuhi Catalunya di pagi dan sore hari. Saya akan kembali Barcelona.
Rencana saya selanjutnya adalah mengunjungi teman saya di Cordoba, Andalucia. Sebenarnya Andalucia adalah bagian dari Spanyol yang terdiri dari 3 kota yaitu Seville/ Sevilla (Read: Sofia), Granada dan Cordoba. Lalu apa istimewanya Cordoba? :)
"Ke Cordoba gimana La",tanya saya ke Arla. Ga ada pesawat langsung ke Cordoba, kamu harus naik pesawat ke Sevilla lalu menyambung bus atau train ke Cordoba." Ok, nanti aku cari info dulu.
Mulailah saya mencari maskapai penerbangan murah yang sesuai dengan rute agar membentuk loop yang bagus pada rangkaian eurotrip saya.
Hingga 2 minggu sebelum keberangkatan ke europe saya pun mengabari Arla :
"La, aku jadi kesana ya pakai Ryan Air 17:55-19:45 Barcelona Sevilla. Kayaknya masih ada kereta malam kalau mau langsung ke Cordoba, aku cek jam terakhir ada 21:35. Berarti aku sampai Cordoba sekitar jam 22:00-23:00, aman ga?". "Aman koq tenang aja nanti aku jemput di Stasiun Cordoba Central". Ok Siiip Cu.
Info dari www.renfe.com, Sevilla Santa Justa to Cordoba Central 02411 AVE 20:18, 20:30, 21.15 , the lastest 21:35, 43 min-1hour12min, EUR 11, tapi harga yang saya beli saat itu adalah EUR 13. Memang ada kereta langsung dari Barcelona ke Cordoba dan waktu tempuhnya juga hampir sama dengan total saya naik pesawat sambung kereta ke Cordoba, tapi kalau dilihat dari segi harga kereta langsung Barcelona Cordoba harganya bisa 3 kali lipat dibanding jika saya menggunakan budget airlines+kereta. Selain itu, ada perbedaan harga juga terjadi jika kita naik kereta yang lebih cepat. Misalnya jika saya naik kereta jam 20:30 dengan jarak tempuh 1 jam 12 menit seharga EUR 13, tapi jika saya naik kereta jam 21:15 jarak tempuh 43 menit harganya menjadi EUR 30. Jadi saya harus ngebut dari Sevilla Airport ke Sevilla Santa Justa untuk mengejar kereta yang murah pukul 20:30 hehee *taktik*
Setelah sampai Sevilla Santa Justa saya langsung menuju penitipan barang, karena hanya 2 hari saya berada di Cordoba dan dalam usaha mengurangi beban di pundak, saya pun hanya membawa daypack berisi barang-barang yang saya anggap penting, selebihnya ransel saya tinggalkan di loker dengan biaya sebesar EUR 2,7. Lalu saya menuju loket pembelian tiket, tinggal beberapa menit sebelum keberangkatan, mencari platform dan membeli sebotol air mineral. Hap saya sudah berada di kereta menuju Cordoba. Sebelum tidur saya mengirimkan sms ke Arla yang berbunyi : "La,aku sampai Cordoba jam 21:50 ya.", kemudian menyetel alarm 10 menit sebelum waktu sampai. "Ok ella jangan sampe ketiduran ya."balasan Arla. Saya pun tidur sebentar ala ayam.
Sampai Cordoba tepat waktu, Arla mengirimkan sms masih otw stasiun. Saya menunggu sebentar sambil mengamati stasiun yang sudah sepi. Walaupun kami baru pertama kali bertemu,tidak susah mengenali Arla yang datang. Rasanya seperti ketemu teman lama, entah karena sebulan sebelumnya kami intens kontak, atau mungkin karena berada jauh dari Indonesia, bertemu orang Indonesia seperti bertemu saudara. Senang :)
Esok harinya, sebelum menjelajah kami sarapan Croissant dan Juice. Tentunya saya mandi dulu, lucunya toilet di Cordoba ada 2. Sorry, satu yang berlubang tempat kita membuang hajat tanpa penyiram,satu lagi di tempat yang berdekatan ada seperti wastafel duduk yang ada semprotan untuk membasuh bagian bawah. Jadi saya berpindah dari tempat toilet satu ke satunya lagi untuk menyelesaikan urusan toilet hehe. Mengkin karena dulu Cordoba dihuni oleh umat Islam jadi bentuk toilet dan kebiasaan membasuh masih diturunkan sampai sekarang walaupun sekian lama umat Islam sudah diusir dari Cordoba.
Mulailah kami pakai coat tipis dan boot untuk keluar berjalan-jalan. Tujuan utama adalah mengunjungi Mezquita. Kami melewati "alun-alun kotanya" Cordoba dengan pancuran air dan patung ksatria kudanya. Area itu bernama Plaza de Las Tendillass. Lalu kami melewati jalan kecil dengan rumah-rumah yang berdempetan. Kata Arla, bila musim panas datang, pada dinding rumah tersebut banyak terpasang bunga-bunga, persis seperti film telenovela. Berarti jalan yang saya lewati ini seharusnya full of flowers kanan kiri saat musim panas. Yang punya hidung sensitif bisa bersin-bersin sepertinya :p
Sebentar kemudian kami sudah mencapai gerbang Mezquita. Harga masuk Mezquita adalah sebesar EUR 8. Ya karena Cordoba kecil kemana-mana gampang, bisa ditempuh dengan jalan kaki, apalagi saya punya "maaf, guide yang fasih menjalankan tugas negara nya" :p
Mezquita (Mosque & Cathedral of Cordoba) adalah Masjid yang dibangun semasa periode Abdul Rahman pada 785 sebagai ibukota Al-Andalus di situs gereja kuno San Vicente. Saat memasuki ke dalam Mezquita kita bisa melihat perpaduan Kristen dan Islam. Nuansa Kristen tetap dipertahankan di Mezquita akan tetapi penempatannya tersendiri di suatu ruangan ataupun paling tidak berada di dalam pagar besi. Pilar-pilar mendominasi hampir seluruh Mezquita dengan bagian atas melengkung setengah lingkaran bercorak merah. Saya merasakan uniknya di dalam sana karena perpaduan Kristen dan Islam masih dilestarikan, dan Mezquita adalah Masjid paling cantik yang pernah saya lihat di Eropa.
Pelataran Mezquita dihiasi pepohonan dengan buah jeruk kecil yang ranum, walaupun di musim dingin jumlah jeruk tergolong banyak, tapi sayang ga bisa dimakan atau lebih ke takut memetik dan memakannya. Lonceng gereja pun masih tetap berdiri di kompleks Mezquita dengan alasan yang sama.
Begitu keluar dari komplek Mezquita jangan heran jika ada wanita yang menghampiri sambil memberi bunga, silahkan tolak saja secara halus karena jika anda terima maka anda akan diminta uang. Cukup banyak yang menghampiri jadi siapkan senyum manis saja untuk menolaknya. Kami pun berjalan menuju Roman Bridge. Sepanjang perjalanan kami bertemu nenek berkerudung kecil model petani, kereta kencana hitam kolosal, ada juga wanita yang sedang menghidupkan lilin sambil berdoa. Cordoba memiliki ciri-ciri kota kecil, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari orang lokal selain modernnya metro ataupun jejeran pertokoan. Etapi ternyata Eropa juga bisa potensial banjir loh, terlihat dengan sungai dibawah Roman Bridge yang mulai tinggi.
Sudah hampir sore, kami pun mampir ke beberapa toko souvenir, Arla yang sebentar lagi juga akan pindah dari Cordoba ikut membeli kenang-kenangan. Kebanyakan bergambar Mezquita, gitar, wanita dengan rok lebar bunga-bunga yang sedang menari salsa, banteng dan matador yang sekarang sudah tidak menjadi sebuah atraksi lagi di Spanyol.
Sebelum kembali ke apartment Arla mengajak mampir ke cafe kecil, kami memesan Churros dan secangkir cokelat panas. Cukup ekonomis untuk 1 porsi churros dan 2 cokelat panas hanya EUR 6.
Seharian berkeliling Cordoba, perut sudah terisi tapi sampai apartment Arla yang baik menawarkan Indomie Goreng, telor goreng lengkap dengan sambal Indofood. Saya yang sudah beberapa pekan ga kena lidah Indonesia, langsung mengangguk dan semangat masak. Jauh-jauh ke Cordoba, demennya tetap Indomie Goreng. Delicioso. Lascivo.
Subuh esok harinya saya harus melanjutkan perjalanan lagi, kali ini saya naik bus menuju Sevilla, berkeliling alias nyasar sebentar di Sevilla, mengambil ransel di loker stasiun lalu menuju airport untuk terbang ke Paris dengan pesawat Ryan Air.
To Arlavinda: Muchas gracias por las calles para que me acompanara, asi que estoy perdido ^ ^


























