Yogyakarta, Kembali dan Kembali lagi

25 May 2013

Ingat saya tentang masa kecil saat berkunjung ke Yogyakarta, Ingat pula saya saat bersama keluarga kembali ke Yogyakarta pada libur lebaran karena kebetulan kampung papa, Solo, adalah tetangga Yogyakarta, dan untuk kesekian kalinya, saya kembali ke Yogyakarta.

03:45 dini hari kereta yang membawa saya dari Jakarta sampai di Yogyakarta, saya membuat janji dengan Fina untuk bertemu di Stasiun Tugu Yogyakarta karena kebetulan kereta tanggal itu penuh sekali sehingga walaupun sama-sama bertolak dari Jakarta, kami berada di kereta yang berbeda, hanya selisih setengah jam. Saya iseng bertanya ke penumpang sebelah : "Mas-mas, ini kereta penuh sekali ya, mungkin karena mau ada perayaan Waisak." Namun si mas sebelah saya berkata jika weekend memang kereta penuh karena banyak yang sekolah atau bekerja di Jakarta pulang ke Yogya sekitarnya saat weekend. Oh begitu, saya mengangguk tapi tetap perasaan saya mengatakan Yogya akan penuh sekali minggu itu, percaya deh.



Dalam survival guide saya , ada catatan naik becak ke Edu Hostel harganya 10ribu. Banyak becak yang menawari jasanya, banyak pula yang kami tolak karena kekeuh dengan patokan harga itu. Sempat terpikir apakah kami akan jalan kaki saja, karena katanya dari stasiun ke Edu Hostel jaraknya dekat sekali. Sampai di ujung stasiun akhirnya ada juga becak yang mau ke Ngampilan dengan harga 10ribu itu hehee. Udara hampir subuh di Yogya segar sekali, sudah mulai ada tanda kehidupan walau langit masih gelap. Awalnya kami nyengir lebar saat naik becak pertama di Yogya hari itu sampai akhirnya kami mingkem karena kasihan dengan tukang becak yang mengangkut kami. Ternyata jaraknya cukup jauh, karena kasian dan takut bapaknya misuh-misuh kami membayar becak seharga 15ribu ketika sampai di Edu Hostel.

Setelah menitipkan tas di receptionist hostel dan kebabalasan tidur sebentar (Re: 2 jam) di lobby, kami pun keluar mencari sarapan.. Taraa 500 meter dari hostel ada nasi kuning komplit dengan tempe, teri, telur ceplok, sambal, kerupuk dan teh hangat enak banget seharga 5ribu saja.




Sudah cukup mengisi energi kami kembali ke hostel untuk bebersih dan bergabung dengan rombongan lain yang sudah sampai lebih dulu. Menyambung sarapan di Soto Kadipiro dan membeli camilan arum manis disana.

Pemberhentian pertama : Alun-alun Kidul (Selatan) dan Wringin Kurung.

Ada mitos yang mengatakan dua beringin ini adalah lambang keteguhan. Mitos itu menguntungkan bagi pedagang ikat penutup mata, karena kerap banyak pasangan yang melakukan uji coba berjalan lurus menuju tengah kedua beringin untuk tes keteguhan. Akan menjadi pemandangan yang lucu jika ada dua pasang yang berjalan bersama di awal namun mulai menjauh, lebih ke kanan atau lebih ke kiri alih-alih seharusnya menuju ke tengah beringin. Namun ada juga yang berhasil lurus ke tengah antara kedua beringin, katanya sih pertanda teguh memilih jalan hidupnya. Ya kembali lagi itu hanya sebuah mitos



Alun-alun Kidul

Pemberhentian kedua : Taman Sari & Masjid Bawah Tanah Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta dulunya digunakan oleh Selir Sultan dan Putri kerajaan untuk mandi. Konon Selir sudah punya "tempat pemandiannya" masing-masing dan Sultan bisa mengakses penglihatan saat Selir-selir itu mandi dari menara tengah. Ckckck


Kolam pemandian selir dahulu

Masih di Taman Sari Yogyakarta, kami berjalan menuju Masjid bawah tanah Taman Sari. Alangkah senangnya kami, dalam perjalanan menuju Masjid bawah tanah kami melihat kanan kiri dinding penuh lukisan pengantin jawa, batik dan petruk gareng semar.








Masjid bawah tanah ini hanya dibuka umum sampai dengan jam 4, padahal saat malam mungkin akan lebih syahdu karena bagian dalam masjid akan dipasang lampu obor. Sayangnya saat kami mengunjungi Masjid ini sedang ada sesi foto dengan model yang berpakaian cukup terbuka sehingga menjadi tontonan pengunjung dan kami tidak bisa mengambil foto bagian tengah karena sudah di monopoli oleh tim fotografinya.


Masjid bawah tanah Taman Sari

Es kencur di depan Taman Sari
Pemberhentian Ketiga : Keraton Yogyakarta & Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta

Gambar dibawah ini adalah Bangsal Mangunturtangkil. "Bangsal ini dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono saat menghadiri upacara Garebeg Pasa, Garebek Besar maupun Garebek Mulud, selain itu juga dipergunakan saat seorang Pangeran/ Putra Mahkota dinobatkan menjadi SultanYogyakarta. " bunyi yang tertulis di depan bangsal. Jika mau melihat proses upacara pengangkatan Sultan sekalian ngadem di ruangan ber-AC, ruang film disediakan Keraton secara gratis. Di sebelah ruang film ada satu ruangan besar lain yang berisi galeri foto-foto kereta kencana. Tentunya kita bukan hanya melihat foto nya saja tapi juga bisa melihat fisik utuh kereta kencana yang masih terawat dan masih bisa digunakan di Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta. Jadi kita bisa membandingkan design kereta dalam foto dengan kereta kencana aslinya.Tarif masuk Taman Sari & Museum Kereta Kencana @ Rp. 3.000, sedangkan Keraton Yogyakarta Rp. 5.000






Kareta Kyai Garuda Yeksa

Pemberhentian Keempat : Candi Borobudur, Magelang



Whuooo seperti perkiraan sebelumnya, kawasan Candi Borobudur hari itu tumplek manusia. Sepertinya dunia sedang menyorot Candi Borobudur dan menunggu detik-detik perayaan Waisak disana. Mulai dari jalan menuju Borobudur sudah padat sejak siang, kami inisiatif untuk berjalan kaki karena rasanya dengan jalan kaki akan lebih cepat sampai dibandingkan naik mobil, bottle neck terjadi antara jalan arah ke pasar dan ke kanan kawasan parkir Candi. Setelah membayar masuk sebesar Rp. 30.000, melewati tempat pemeriksaan tas, kami pun masuk ke kawasan tersebut. Baguslah ada larangan tidak boleh membawa makanan dan minuman, kebayang jika dibolehkan pasti sampah berserakan dimana-mana. Sore itu saya lama duduk di bagian tengah candi, niatnya istirahat sambil menunggu twilight, jadinya malah asyik people watching, terlihat di bawah dan di tangga ke atas banyak orang seperti sarang semut, melihat orang yang hilir mudik di depan saya, yang cewek cantik-cantik, yang bawa kamera DSLR berat banyak banget. Dalam hati haduh kasian candinya makin turun menahan bobot pengunjung (kalau bisa punya jurus meringankan badan deh), kasian kalau ada yang masih naik ke stupa candi padahal woro-woro petugas sudah jelas sekali tentang larangan itu, pegang-pegang batu pakai tangan. Jangan dong :(







Akhirnya saya mulai beranjak berjalan mengelilingi candi. Terlihat di beberapa titik, umat Budha yang sedang beribadah, ada pula Bhiksu yang berkeliling candi setelah melakukan pawai. Makin sore, makin sesak Borobudur dengan ribuan (mungkin) manusia.

Tips 1 di Borobudur : Silahkan selesai urusan toilet dan menjaga makan sebelum masuk pelataran Candi, karena jika sudah sampai di atas taunya kebelet atau sakit perut, jauh sekali untuk mencari toilet yang ada di dekat pintu masuk yaitu sekitar Museum, teman kita pun niscaya ga mau nemenin turun lagi karena jaraknya yang jauuh di bawah. Kalau kiranya tetap kebelet, ambil batu kecil genggam erat-erat, mudah-mudahan bisa menahan pup sementara, walaupun kadang terasa, ilang, terasa, ilang seperti derita saya waktu itu.







Hari sudah mulai malam, hujan rintik turun. Schedule mulai upacara sebetulnya jam 7 malam tapi mungkin karena kondisi macet beberapa pihak yang terlibat memberi pidato pembukaan terlambat datang. Makin malam pengunjung yang tidak sabar gelisah. Ketenangan waisak pun terganggu karena gaduh pengunjung yang meng hu hu kan pejabat yang telat datang tersebut terlebih karena ada kesan menyisipkan promosi pemilu yang tidak berhubungan dengan Waisak dalam pidatonya. Hujan semakin deras malam itu, mulai banyak yang melakukan refund pembelian lampion karena memperkirakan pelepasan lampion tidak bisa dilakukan. Saya berembuk dengan teman-teman akhirnya memutuskan untuk bersiap pulang.

Tips 2 di Borobudur : Jika pergi dengan rombongan, usahakan jangan terpisah karena akan agak sulit melakukan komunikasi di area Borobudur karena sinyal sering SOS. Kecuali mempunyai telepati dan ikatan batin yang kuat, dan ajaibnya kami bisa menemukan suami (sebut saja Mbak X) yang hilang malam itu tanpa bantuan HP.

Tips 3 di Borobudur : Sedia Payung & Raincoat, karena areanya terbuka total langsung di bawah langit, jika hujan deras cukup dan lama, pakai raincoat saja bisa tembus.

Tips 4 di Borobudur : Saat Waisak, jangan gunakan pintu masuk sebagai pintu keluar, karena sudah ditutup pada malam hari, tanyalah kepada satpam dimana pintu keluar saat baru masuk kawasan Borobudur agar tidak memutar saat jalan pulang.

altar tempat umat Budha sembahyang

22:30 Hal terakhir yang saya ingat sebelum pulang adalah masih diadakan prosesi Bhiksu dan umar Budha mengelilingi Borobudur. Petugas dengan sigap menjaga jalan untuk mereka lewat dan ada border dimana pengujung tidak boleh menghalangi jalan. Mengenai kisah sedih tentang Waisak yang beredar di sosial media dan berita, saya hanya mengatakan iya, memang benar adanya bahwa sangat disayangkan masih ada yang belum paham artinya toleransi dan menghargai hidup beragama, sehingga ada beberapa tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan dan ada area-area yang tidak boleh disentuh dan dilarang masuk, terlanggar.









Jika punya waktu lebih, akan lebih bagus menambahkan beberapa hari lagi ke Yogya untuk mendatangi pantai-pantai seperti : Pantai Indrayanti, Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Drini, Pantai Sundak. Air terjun Jogan - Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dll. Masih banyak pantai yang belum saya kunjungi di Yogya, sengaja biar ada alasan untuk kembali lagi tahun depan :))))

Pantai Kukup

Photos taken by me and some cool photos by Masroel

Post a Comment