One of New7Wonders, Taj Mahal.

 26 February 2013

Siang itu saya mendarat di Delhi dari varanasi menggunakan Spice Jet, bercerita sedikit tentang maskapai lokal India, saat saya menerima email konfirmasi setelah issued tiket tertera bahwa peraturan check in adalah 2 jam sebelumnya dan pemegang tiket harus memperlihatkan kartu kredit yang digunakan untuk issue tiket. Kenyataan di lapangan hal itu benar-benar terjadi, saya menghabiskan 2 jam penuh untuk mengantri pemeriksaan serta check in bagasi karena pelayanannya lama dan counter yang dibuka hanya satu. Sedangkan untuk kartu kredit sebaiknya cek dulu apakah kartu sudah aman di dompet karena apabila tidak bisa memperlihatkan ke petugas check in maka tiket akan dianggap tidak valid dan anda harus membeli tiket baru.
   

Saya tidak lama berada di Dehli hari itu dan langsung melanjutkan perjalanan ke Agra dengan menggunakan sleeper train (tipe ekonomi dengan kipas angin tanpa AC dan tempat duduk yang tegak dan keras), untuk perjalanan selama 3 jam seharga Rs 155 = Rp. 31.000 masih worth it. 

Sampai di Agra sudah hampir petang, saya menuju loker autoricksaw dan membayar Rs 100 menuju Hostel Rashmi Agra. Kami tidak dapat menawar kurang dari harga itu karena menurut petugasnya di sekitar Agra sedang ada perayaan sehingga perlu jalan memutar untuk mencapai jalan terdekat ke Hotel. Mereka berjanji akan mengantarkan kami ke tempat yang paling dekat sehingga tidak perlu berjalan jauh, autoricksaw tidak bisa masuk sampai ke depan hotel karena jalan ditutup penuh manusia. Kami memesan hostel Rashmi Agra melalui  hostelworld.com dan ternyata rekomendasi lonely planet dengan harga Rp.53.500 per orang




Saya mulai keluar hostel pukul 8 malam dan bingung mulai antri beli tiket dari mana karena panjangnya mengular. Alhasil kami keliling di luar melihat suasana malam di Agra sambil menunggu antrian mereda. Pukul 9.30 antrian masih panjang, akhirnya kami pasrah iseng ikut antrian, sampai hampir beberapa baris lagi di depan loket, saya melihat tulisan " Gratis untuk wisatawan asing* Horeee saya pun langsung masuk lewat penjaga nya begitu saja.

Di dalam banyak dijual bahan saree dan pernak pernik khas India dengan harga yang cukup murah dan pastinya harus tawar- menawar. Saya membeli dress, selendang, satu set kalung, gelang dengan harga rata-rata Rp. 25.000-50.000.





Mobil Inspektur Vijay


Pagi keesokan hari, kami bangun jam 5 berharap mendapat sunrise di Taj Mahal dan antrian yang masuk sudah cukup panjang. Oiya untuk cewek ada khusus ladies line untuk membeli tiket jadi lumayan mempercepat antrian, tidak seperti yang saya lakukan waktu itu, baru ngeh ada antrian cewek pas sudah sampai depan loket tapi ga ada petugas yang jagain loketnya juga ding :) Setelah membayar Rs 750, saya diberi tiket dan juga kupon yang bisa ditukar untuk mendapatkan air mineral dan kantung pembungkus sepatu.





Saya menuju ke depan gedung pembelian tiket dan menunggu shuttle bus sekitar 10 menit yang akan membawa kami menuju daerah parkir Agra. Masuk area depan jalannya bersih dan banyak pohon-pohon, lalu ada gerbang merah tinggi sebagai benteng depan. Melangkahkan kaki pertama masuk gerbang, saya lihat di depan berdiri dengan cantiknya bangunan putih berbentuk seperti Masjid. Tumpukan Marmer Putih yang berdiri megah dan cantik. Sungguh saya bisa merasakan bagaimana cintanya Kaisar Shan Jahan kepada istrinya Mumtaz Mahal. Taj Mahal, bangunan cantik itu berdiri dengan anggun. Luar Biasa. Tidak mengherankan juga kalau Taj Mahal masih tetap dianggap sebagai Seven Wonder in The World dan masih masuk ke New Seven Wonder, tidak tergeser oleh jaman seperti yang terjadi pada beberapa Seven Wonder lainnya.

Untuk pertama kalinya saya betah tidak beranjak dalam suatu komplek, lama sekali hingga sore, udara yang nyaman membuat suasana makin syahdu. Memasuki area bangunan yang berisi makam sang permaisuri, petugas mempersilahkan pengunjung termasuk saya untuk memasang kantung sepatu agar lantai marmer yang kami injak tidak rusak. Tanpa disuruh pun, saya akan langsung memakai kantung tersebut, karena saya pun tidak tega kalau lantai bangunan putih itu tergores. Saya pegang dinding marmer putih itu, dingin, ukiran bunga nya cantik banget. Saya pun makin masuk ke dalam dan sudah termasuk area dilarang foto karena di dalamnya terdapat makam berpagar, tempat sang permaisuri dimakamkan (pada awalnya), akan tetapi sekarang makamnya dipindahkan ke bagian bangunan yang lain, sehingga yang terogok disana hanya makam kosong.

































Jika dilihat keseluruhan komplek Taj Mahal terdapat hiasan kolam, pohon hijau, bangunan merah untuk mempercantik areanya. Tapi tetap bangunan tunggal putih itulah yang menjadi primadona dan pusat perhatian.




Post a Comment