Awal mula cerita adalah saat saya sudah merasa sangat betah di Cordoba, saya dan Arla akan membuat mie goreng indomie sore itu, makanan kesayangan *peluk-peluk bungkus indomie*. Makan indomie dengan telor ceplok emang paling nikmat apalagi di negeri orang. Sore itu saya langsung membatalkan pesanan hostel saya di Seville, karena saya mau menginap semalam lagi di Cordoba.
Keputusan ini bukannya tanpa perhitungan karena saya sengaja sudah menyiapkan Hostel Seville Picasso Backpacker untuk menginap hari itu karena esok harinya ada flight pagi dari Seville ke Paris. Tetapi setelah mengobrol dan tanya ke google tentang jadwal bus besok pagi, sepertinya akan keburu naik bus dari Cordoba jam 05:00 dan sampai ke Seville jam 07:00 mengambil bagasi di loker station Seville Santa Justa dan 30 menit menuju airport untuk check in, lagipula saya sudah melakukan web check in Ryan Air lebih dulu dan sudah memiliki boarding pass pukul 09:10 untuk jadwal pesawat jam 10:00.
Saya bangun jam 04:00, mandi, membereskan peralatan yanug hanya berupa daypack dan pritilan harian, sarapan dengan croissant yang saya beli kemarin. Pukul 04:30 saya keluar apartemen dengan diantar Arla berjalan kaki menuju Cordoba station,terminal bus bersebelahan dengan stasiun kereta. Pukul 04:40 kami sudah sampai di terminal bus dan bus tujuan Seville belum ada. Saya menunggu. Pukul 04:50 bus pun belum datang. Saya tetap menunggu. Pukul 05:00 sudah waktunya keberangkatan tapi belum ada bus yang masuk ke terminal. Lalu saya pun berkeliling terminal mengecek, mungkin saja bus yang dimaksud sudah lama nongkrong diantara bus-bus yang sudah ada disana. Namun semua bus yang ada di terminal saat itu kosong dan tidak beroperasi.
Saya pun makin sering melihat jam tangan, walaupun kelebihan waktu yang saya miliki cukup banyak, tapi ada sedikit deg-degan karena pengalaman selama ini memang sistem transportasi negara maju apalagi Eropa sangat on time. Namun apakah gerangan yang terjadi dengan bus saya. Saya kembali masuk ke dalam terminal untuk mencari kehangatan dan tetap menunggu. Pukul 05:15 saya kembali keluar terminal, berkeliling lagi. Akhirnya saya dan Arla membunuh waktu dengan berfoto di terminal di depan bus-bus yang tidak beroperasi tersebut. Duduuduu bus saya kemana siiikkk.
Sampai akhirnya saya melihat siluet lampu sorot dari arah luar terminal lalu munculah dari belokan bus yang saya yakini adalah bus saya. Saya lihat kode di depan jendela bus tersebut dan kota tujuannya yang ternyata bukan ke Seville. Gregeeettt bener deh.
Kemudian muncul lagi lampu sorot dari luar dan masuklah bus yang lainnya. Saya hampiri bus ke arah halte no 17 seperti tertera di dalam layar schedule di depan terminal. Bersamaan dengan sampainya bus tersebut di halte no 17, sampai jugalah saya di depan bus tersebut. Akhirnyaa, datang juga. Saya segera cipika-cipiki serta berpelukan dengan Arla dan menaiki bus tersebut. Lima menit kemudian bus tersebut langsung berangkat. Saya perhatikan penumpang yang ada disana kebanyakan adalah pegawai yang mungkin bekerja di Seville. Di dalam bus saya berdoa dan berpikir positif, "It's gonna be alright"
Terbangun dari tidur ayam saya di bus dan kembali mengecek jam sudah hampir jam 06:50 tapi bus nya masih terus melaju, kira-kira bisa sampai Seville jam berapa ya, mudah-mudahan on time ya Tuhan. Saya pun makan permen dan memejamkan mata berusaha tenang. Bangun kembali mendapati bus mulai berbelok ke basement suatu gedung. Saya sampai Alhamdulillah tepat waktu pukul 07:00 fiuuh. Saya pun naik ke lantai atas dan berjalan menuju halte bus dalam kota dan mencari jalur bus A2 menuju Station Santa Justa. Setelah tanya sana-sini dan berjalan mencari haltenya, saya menemukan lambang A2 dan naik bus di halte tersebut. Sialnya kenapa bisa lupa tanya dulu sebelum masuk bus, baru duduk di bus saya bertanya ke orang sebelah arah dan stop Santa Justa di nomor berapa. Dan ajaibnya walaupun berbahasa inggris terbata-bata, ibu yang saya tanyai menggelengkan kepala dan menunjukkan ke arah luar jalan, ya menunjukkan jalur yang seharusnya saya naiki. Kacauu, saya salah naik bus. Akhirnya saya cepat turun di halte berikutnya dan menyebrang jalan menuju halte A1. Tidak mau mengulang kesalahan sebelumnya saya menyebutkan Santa Justa ke petugas dan setelah petugasnya mengangguk barulah saya masuk ke dalam bus. Mata saya ga lepas melihat peta bus, dan menandai berapa halte lagi, karena pronunciation bahasa spanyol dan tulisan lisan yang tertera dilayar depan bus beda banget, ga familiar di kuping, kadang saya juga bingung mencocokkan antara suara pengumuman halte dengan nama yang tertera di dalam peta.
Pukul 08:00 bus berhenti di halte transit, si driver keluar bus dan bergabung dengan driver lainnya di luar sana. Saya lihat dia mengobrol dan merokok. Keringetaaan. Hayo dong jalan lagi. Lima belas menit kemudian saya masih di tempat yang sama. Si driver masih berkerumun dengan perkumpulan drivernya.. Muleeeeeesss.
Singkat cerita driver kembali ke bus dan saya sampai di Santa Justa pukul 08:30. Saya berlari ke arah loker, saya berlari lagi ke shuttle bus menuju airport, saya berlari lagi ke bagian check in Ryan Air..
Bercerita tentang Ryan Air akan membuat saya makin muleeeeess.
Seperti pengalaman naik Ryan Air sebelumnya dari Barcelona ke Seville, sebelum check in baggage, petugas meminta saya (seorang pemilik passport non EU) untuk memeriksa dokumen ke bagian "Document check counter". Yang dicek adalah passport, visa, tiket dan bagasi. Ga penting juga sih menurut saya. Buat apa toh bisa dilakukan di check in counter juga.
Pukul 09:05 saya sampai di Seville Airport dan langsung menuju bagian "Document check counter" untuk mempersingkat waktu. Langsung saya berikan kelengkapan berkas beserta boarding pass dan bilang "Could you please check it quickly, hope I can catch my flight." Petugas pun langsung mengangkat telpon di dekatnya dan berbicara bahasa Spanyol. Ya bagus mudah-mudahan dia bisa langsung koordinasi dengan ground-crew nya. Dia mengangguk dan memberikan semua dokumen saya. Kemudian saya langsung menuju bagian check in counter. Seketika saya sampai depan counter, seketika itu juga petugasnya berdiri, keluar counter, menutup pintu counter, Damn.
Me : Hi, i wanna check in my baggage, this is my boarding pass.
Her : Sorry, we're closed.
Me : But i already did web check in, i just want to drop my baggage.
Her : Sorry, you can't, you have to contact our ground crew.
Me : What do you mean?
Her : You have to buy for next flight or pay for extra baggage
Me : How much?
Her : Fifty Euros
Me : What Fifteen Euros?
Her : No, Fifty Euros
No way.
Saya berpikir, gimana ini ya.. Kalau naik bus ke Paris perlu berapa lama ya, berapa uangnya, beli tiket pesawat baru juga berapa, pasti makan waktu nunggu lagi. Perlu google atau tanya informasi untuk mengatur semua itu lagi. Sepersekian detik saya berpikir cepat dan memutuskan untuk berusaha melakukan lobby ke ground crew nya.
Saya pun membawa badan, backpack yang berat di pundak serta day pack saya menuju pemeriksaan tas. Pemeriksaan paling rempong dengan banyak barang bawaan, semua jaket dan boot dilepas kemudian dipakai lagi. Pretty D*mn..
Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, saya menuju gate Ryan Air, saya bertemu cewek spanyol yang satu bus dengan saya saat menuju ke airport, saya bercerita bahwa saya dikatakan terlambat check in, padahal saya datang tepat waktu, saya sudah punya boarding pass, saya sudah beli bagasi. masa saya harus bayar 50 euro lagi, yang bener aja. Si cewek Spanyol itu pun terkejut, 50 euro? iya 50 euro Ok saya akan bantu kamu bicara dengan ground crew nya. Dia mengantar saya masuk ke gate Ryan Air walaupun kami tidak satu pesawat. Saya melewati antrian masuk pesawat dan menuju ground crew untuk boarding lounge terakhir kali.
Khusus Ryan Air, tidak ada salahnya untuk datang ke airport lebih cepat, karena seperti pengalaman saya dengan pesawat ini sebelumnya rute Barcellona-Seville. Segeralah mengantri saat gate terbuka, karena makin cepat kita datang, makin depan antrian, kita bisa memilih seat sendiri agar tidak perlu berjalan jauh di bagian belakang pesawat ataupun rebutan menaruh cabin baggage. Kalau pernah mendengar ada pesawat yang tidak ada nomor seat, Ryan air inilah pesawatnya. Sumpah rusuh banget saat penumpang masuk pesawat. Langkah cepat, duduki seat, taruh bagasi di atas cabin. Bisa jadi cabin ga muat karena penumpang banyak yang tidak mau membeli bagasi dan memanfaatkan cabin semaksimal mungkin.
Cewek Spanyol itu berbicara dengan bahasa Spanyol menjelaskan ke petugas, namun tidak ada yang berubah. Dia bilang karena ini adalah budget airlines maka peraturan tetap peraturan yang strict, we can't do anything. Saya berterima kasih kepada cewek Spanyol itu dan dia harus kembali ke waiting room pesawatnya, tinggalah saya yang berhadapan dengan petugas dodol tersebut. Saya tetap kekeuh bilang kalau saya sudah punya bagasi, lalu kenapa saya harus beli bagasi lagi. Dan harganya itu loh 50 euro. "Hey c'mon, i bought my ticket only 15 euros and also my baggage, why should I buy another 50. My ticket even cheaper than."
Dengan berat hati dan ga tega saya menyerah dan menjulurkan uang yang bentuknya panjang dan lebar bernilai 50 yang saya sayang-sayangin di dompet. Uang jaga-jaga yang tidak saya keluarkan bahkan tidak untuk belanja. Saat memberikan uang itu saya berkata. "I don't need to que, right? and i will drop my baggage here". Yes, you don't need to que but you should bring your baggage until you meet the ground crew there. >>> Whaaaatttt.
Petugas itu menaruh tag warna merah bertuliskan 50. Kampruuung memang. Saya rugii bandar, uang saya plus berat backpacknya huhuhu. Saya membawa backpack berat yang terasa semakin berat dengan tag merah tulisan 50 itu, malunya karena merasa orang-orang di belakang saya ngomongin dan mungkin iba kepada saya karena tag merah itu.
Ryan Air ini benar-benar ya, untuk menekan biaya mereka tidak menyediakan shuttle bus dari airport ke pesawat, sehingga saya harus berjalan jauh sekitar 300 meter dengan backpack. *nangisss*
Sesampai di bawah pesawat, saya langsung menuju petugas trolley. Apa sih tugasnya mereka cuma mindahin tas saya ke pesawat di atasnya, saya capek jalan jauh bawa-bawa backpack. Pengen nabok udara.
Saya duduk di pesawat serasa mimpi dengan petir di siang bolong, inhale-exhale, mungkin untuk bisa sampai ke tempat yang indah harus melalui hal yang ga enak dulu ya.
Dua jam kemudian pesawat mendarat di Airport Paris-Beauvais.
Seluruh penumpang berjalan jauh lagi mulai dari turun pesawat ke airport tanpa shuttle bus. Ryan Air pelit banget sumpaaaahhh mamen.
Saya mengambil backpack ber-tag merah itu dengan perasaan antara lega dan senyum pilu 50 euro
Ayooo berjuang 1,5 jam lagi menuju pusat kota Paris dari airport. Semangat traveling lagi.
P.S : Lebih lengkap cerita tentang budget airlines disini >>> looking-for-low-cost-budget-airlines
Sesampainya di St Christoper Hostel
Hi Oli, I'm in Paris now, see you. Message Sent.




Post a Comment