(Never) Lost in Istanbul


26 January 2013

You lost!

Kata itu yang saya dengar dari mulut salah satu pemuda yang duduk bergerombol di sudut jalan Istanbul di jalan menuju Basilica Cistern.

You lost!

Apakah saya terlihat begitu lugu sehingga mereka menyebut kata tersebut dengan maksud menakut-nakuti saya. Memang agak bergidik terutama kalo sedang solo traveling, tapi saya berusaha cuek dan tetap berjalan seperti biasa saja.

Di hari terakhir ini saya yang hanya ingin mengulang rute dengan santai di Istanbul dan mengunjungi beberapa tempat yang belum sempat di datangi, menandai beberapa tempat pada city map dan bertanya kepada receptionist hostel naik apa kesana, dan sang receptionist berkata :  "Oh c'mon that's all around here, just walk, your still young."

Ya sebenarnya memang kalau waktu dan energi masih banyak, Istanbul ini bisa dikelilingi dengan berjalan kaki, opsi lain adalah dengan menggunakan tram dengan rute seperti dibawah ini :

Istanbul Metro & Tram Map
Kalau di Bogor kita punya Istana Bogor & kebun raya. Kalau Istanbul sentralnya adalah Sultanahmet. Jantungnya yang pasti akan dilewati, dan ketika sudah sampai di Sultanahmet, ada beberapa bangunan disekitarnya, kita tinggal pilih mau masuk ke bangunan mana duluan.

1. Hagia Sofia/ Aya Sophia - Sultanahmet Area


Saat saya datang ke Hagia Sofia/ Aya Sophia, bangunan ini sedang direnovasi bagian depan dan beberapa pilarnya. Tapi bagian dalam yang dulunya gereja kemudian menjadi Masjid lalu sekarang beralih fungsi sebagai Museum ini sangat cantik. Terutama saat memasuk aula besarnya, sulit rasanya menahan untuk tidak mendongak melihat berkeliling ke bagian atapnya. Masuk lebih jauh terdapat galery foto yang menampilkan foto beberapa pimpinan kristiani zaman dulu dan koleksi perhiasan yang sepertinya bisa dibeli.





  



 

















2. Blue Mosque - Sultanahmet Area

Blue Mosque ini adalah salah satu Masjid tercantik di Eropa dan Masjid pertama yang saya kunjungi di Eropa. Masjid Keduanya adalah Mezquita di Cordoba . Pastinya Masjid ini memiliki nilai histori bagi orang Turki dan peradaban Islam di dunia, tidak salah bahwa karena Masjid inilah membuat Istanbul menjadi tujuan tambahan umat Islam dalam rangkaian umroh. Tata cara memasuki Masjid adalah membuka sepatu, mengambil kantung sepatu dan memakai lagi setelah keluar Masjid. Di dalam masjid ini umat Islam bisa melakukan sholat ataupun mengikuti kelas kajian Islam dengan jadwal tertentu (asal ngerti bahasa Turki aja hehe)















3. Topkapi Palace

Di dalam Topkapi Palace ini disimpan barang-barang berharga Sultan dan peninggalan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu kebanyakan galeri nya dilarang foto. Oiya disini terdapat toko souvenir, dan saya membeli kaos oblong dengan tulisan dan khas Turki untuk oleh-oleh seharga 5 Lira atau sekitar Rp. 25.000 saja.







4. Sultanahmet Pedestrian Area




jangan pernah beli roti ini keras banget.







kalau mau cobain spa ala Turki yang seperti mau dipatahin tulangnya plus dibubuhi seperti lumpur hitam, monggo












5. Taksim Square.

Tidak seperti hari pertama saya naik tram menuju Taksim Square, di hari terakhir saya memilih jalan kaki, hujan rintik-rintik saat itu dan jalanan mulai menurun, saya harus hati-hati agar tidak terpeleset di jalan yang licin. Lucunya lebar jalan itu hanya seperti jalan satu arah di jakarta dan di jalan yang sempit itu harus berbagi dengan 2 jalur tram di tengahnya. Selama perjalanan saya memasuki toko-toko souvenir, saya membeli beberapa tempelan kulkas dan pajangan rumah titipan papa.

Akhirnya saya pun sampai di Taksim Square, disini terdapat pool bus havatas, jika mau ke Airport Istanbul S Gokcen bisa naik bus havatas dari sini. Di sekitar Taksim Square terdapat banyak pertokoan seperti H&M dan merk-merk lokal.

**) Jika tidak mau jalan kaki, bisa menggunakan tram sampai ke stasiun terakhir Kabatas, lalu lanjut naik furnicular 1 stasiun ke Taksim.




6. Yeni Mosque, Galata Bridge & Bosphorus

Kenapa saya jadikan satu karena 3 tempat ini ada di satu area. Beberapa bulan sebelum ke Turki, di bioskop sedang diputar film The Taken, dan ada adegan sang ayah yang mengajak jalan-jalan putrinya dengan menggunakan Bosphorus Cruise. Wuih saya sih naiknya Ferry bukan Cruise. Ya saya naik Ferry melewati Selat Bosphorus yang menghubungkan Turki kawasan Eropa dan kawasan Asia. Dan beginilah pemandangan sekitarnya.

Yeni Mosque




Galata Bridge










Selat Bosphorus menuju Asia (diujung sana ada kota)


          
Aktivitas di atas Galata Bridge



Lapar, Mamam Burger Kebab, untung bawa sambel, agak nutupin bau kambingnya


 7. Grand Bazaar

Terakhir akhirnya saya naik tram dari Taksim ke Grand Bazaar dan berhenti di Stasiun Beyazit.
Pintu masuk Grand Bazaar banyak sekali, begitu masuk langsung tercium aroma rempah-rempah. Banyak penjual yang ada disana, tapi sekilas saya lihat barang yang dijual hampir sama yaitu peralatan logam khas Turki, piring, hiasan dinding, baju, rempah, dll. Saya tidak terlalu lama berada disana, takut bingung cari jalan keluarnya hehe


Jeton




Grand Bazaar

Begitulah cerita tentang Istanbul, memang agak susah di masalah bahasa, tapi kita masih bisa gunakan bahasa tubuh dan tersenyum.. Oiya sewaktu menuju Galata Bridge, saya sempat disamperin seorang bapak sekitar 40 tahunan. Dia tersenyum dan berkata dengan bahasa Turki, saya pun hanya tersenyum. Saat saya mau menyebrang jalan dia tiba-tiba menggandeng tangan saya, saya yang kaget hanya tersenyum dan berusaha melepaskan pegangan dengan cepat, setelah menyebrang jalan saya langsung ambil langkah ke arah yang berlawanan, sambil berlari kecil menjauhi si bapak tadi.. Fiuuuh.


One of New7Wonders, Taj Mahal.

 26 February 2013

Siang itu saya mendarat di Delhi dari varanasi menggunakan Spice Jet, bercerita sedikit tentang maskapai lokal India, saat saya menerima email konfirmasi setelah issued tiket tertera bahwa peraturan check in adalah 2 jam sebelumnya dan pemegang tiket harus memperlihatkan kartu kredit yang digunakan untuk issue tiket. Kenyataan di lapangan hal itu benar-benar terjadi, saya menghabiskan 2 jam penuh untuk mengantri pemeriksaan serta check in bagasi karena pelayanannya lama dan counter yang dibuka hanya satu. Sedangkan untuk kartu kredit sebaiknya cek dulu apakah kartu sudah aman di dompet karena apabila tidak bisa memperlihatkan ke petugas check in maka tiket akan dianggap tidak valid dan anda harus membeli tiket baru.
   

Saya tidak lama berada di Dehli hari itu dan langsung melanjutkan perjalanan ke Agra dengan menggunakan sleeper train (tipe ekonomi dengan kipas angin tanpa AC dan tempat duduk yang tegak dan keras), untuk perjalanan selama 3 jam seharga Rs 155 = Rp. 31.000 masih worth it. 

Sampai di Agra sudah hampir petang, saya menuju loker autoricksaw dan membayar Rs 100 menuju Hostel Rashmi Agra. Kami tidak dapat menawar kurang dari harga itu karena menurut petugasnya di sekitar Agra sedang ada perayaan sehingga perlu jalan memutar untuk mencapai jalan terdekat ke Hotel. Mereka berjanji akan mengantarkan kami ke tempat yang paling dekat sehingga tidak perlu berjalan jauh, autoricksaw tidak bisa masuk sampai ke depan hotel karena jalan ditutup penuh manusia. Kami memesan hostel Rashmi Agra melalui  hostelworld.com dan ternyata rekomendasi lonely planet dengan harga Rp.53.500 per orang




Saya mulai keluar hostel pukul 8 malam dan bingung mulai antri beli tiket dari mana karena panjangnya mengular. Alhasil kami keliling di luar melihat suasana malam di Agra sambil menunggu antrian mereda. Pukul 9.30 antrian masih panjang, akhirnya kami pasrah iseng ikut antrian, sampai hampir beberapa baris lagi di depan loket, saya melihat tulisan " Gratis untuk wisatawan asing* Horeee saya pun langsung masuk lewat penjaga nya begitu saja.

Di dalam banyak dijual bahan saree dan pernak pernik khas India dengan harga yang cukup murah dan pastinya harus tawar- menawar. Saya membeli dress, selendang, satu set kalung, gelang dengan harga rata-rata Rp. 25.000-50.000.





Mobil Inspektur Vijay


Pagi keesokan hari, kami bangun jam 5 berharap mendapat sunrise di Taj Mahal dan antrian yang masuk sudah cukup panjang. Oiya untuk cewek ada khusus ladies line untuk membeli tiket jadi lumayan mempercepat antrian, tidak seperti yang saya lakukan waktu itu, baru ngeh ada antrian cewek pas sudah sampai depan loket tapi ga ada petugas yang jagain loketnya juga ding :) Setelah membayar Rs 750, saya diberi tiket dan juga kupon yang bisa ditukar untuk mendapatkan air mineral dan kantung pembungkus sepatu.





Saya menuju ke depan gedung pembelian tiket dan menunggu shuttle bus sekitar 10 menit yang akan membawa kami menuju daerah parkir Agra. Masuk area depan jalannya bersih dan banyak pohon-pohon, lalu ada gerbang merah tinggi sebagai benteng depan. Melangkahkan kaki pertama masuk gerbang, saya lihat di depan berdiri dengan cantiknya bangunan putih berbentuk seperti Masjid. Tumpukan Marmer Putih yang berdiri megah dan cantik. Sungguh saya bisa merasakan bagaimana cintanya Kaisar Shan Jahan kepada istrinya Mumtaz Mahal. Taj Mahal, bangunan cantik itu berdiri dengan anggun. Luar Biasa. Tidak mengherankan juga kalau Taj Mahal masih tetap dianggap sebagai Seven Wonder in The World dan masih masuk ke New Seven Wonder, tidak tergeser oleh jaman seperti yang terjadi pada beberapa Seven Wonder lainnya.

Untuk pertama kalinya saya betah tidak beranjak dalam suatu komplek, lama sekali hingga sore, udara yang nyaman membuat suasana makin syahdu. Memasuki area bangunan yang berisi makam sang permaisuri, petugas mempersilahkan pengunjung termasuk saya untuk memasang kantung sepatu agar lantai marmer yang kami injak tidak rusak. Tanpa disuruh pun, saya akan langsung memakai kantung tersebut, karena saya pun tidak tega kalau lantai bangunan putih itu tergores. Saya pegang dinding marmer putih itu, dingin, ukiran bunga nya cantik banget. Saya pun makin masuk ke dalam dan sudah termasuk area dilarang foto karena di dalamnya terdapat makam berpagar, tempat sang permaisuri dimakamkan (pada awalnya), akan tetapi sekarang makamnya dipindahkan ke bagian bangunan yang lain, sehingga yang terogok disana hanya makam kosong.

































Jika dilihat keseluruhan komplek Taj Mahal terdapat hiasan kolam, pohon hijau, bangunan merah untuk mempercantik areanya. Tapi tetap bangunan tunggal putih itulah yang menjadi primadona dan pusat perhatian.




So Damn Delicious, Me & Indomie vs Ryan Air

22 January 2013

Awal mula cerita adalah saat saya sudah merasa sangat betah di Cordoba, saya dan Arla akan membuat mie goreng indomie sore itu, makanan kesayangan *peluk-peluk bungkus indomie*. Makan indomie dengan telor ceplok emang paling nikmat apalagi di negeri orang. Sore itu saya langsung membatalkan pesanan hostel saya di Seville, karena saya mau menginap semalam lagi di Cordoba.

Keputusan ini bukannya tanpa perhitungan karena saya sengaja sudah menyiapkan Hostel Seville Picasso Backpacker untuk menginap hari itu karena esok harinya ada flight pagi dari Seville ke Paris. Tetapi setelah mengobrol dan tanya ke google tentang jadwal bus besok pagi, sepertinya akan keburu naik bus dari Cordoba jam 05:00 dan sampai ke Seville jam 07:00 mengambil bagasi di loker station Seville Santa Justa dan 30 menit menuju airport untuk check in, lagipula saya sudah melakukan web check in Ryan Air lebih dulu dan sudah memiliki boarding pass pukul 09:10 untuk jadwal pesawat jam 10:00.

Demi Mie Goreng. Sungguh saya kabita pisan, nyamnyam.




23 January 2013

Saya bangun jam 04:00, mandi, membereskan peralatan yanug hanya berupa daypack dan pritilan harian, sarapan dengan croissant yang saya beli kemarin. Pukul 04:30 saya keluar apartemen dengan diantar Arla berjalan kaki menuju Cordoba station,terminal bus bersebelahan dengan stasiun kereta. Pukul 04:40 kami sudah sampai di terminal bus dan bus tujuan Seville belum ada. Saya  menunggu. Pukul 04:50 bus pun belum datang. Saya tetap menunggu. Pukul 05:00 sudah waktunya keberangkatan tapi belum ada bus yang masuk ke terminal. Lalu saya pun berkeliling terminal mengecek, mungkin saja bus yang dimaksud sudah lama nongkrong diantara bus-bus yang sudah ada disana. Namun semua bus yang ada di terminal saat itu kosong dan tidak beroperasi. 

Saya pun makin sering melihat jam tangan, walaupun kelebihan waktu yang saya miliki cukup banyak, tapi ada sedikit deg-degan karena pengalaman selama ini memang sistem transportasi negara maju apalagi Eropa sangat on time. Namun apakah gerangan yang terjadi dengan bus saya. Saya kembali masuk ke dalam terminal untuk mencari kehangatan dan tetap menunggu. Pukul 05:15 saya kembali keluar terminal, berkeliling lagi. Akhirnya saya dan Arla membunuh waktu dengan berfoto di terminal di depan bus-bus yang tidak beroperasi tersebut. Duduuduu bus saya kemana siiikkk.



Sampai akhirnya saya melihat siluet lampu sorot dari arah luar terminal lalu munculah dari belokan bus yang saya yakini adalah bus saya. Saya lihat kode di depan jendela bus tersebut dan kota tujuannya yang ternyata bukan ke Seville. Gregeeettt bener deh.

Kemudian muncul lagi lampu sorot dari luar dan masuklah bus yang lainnya. Saya hampiri bus ke arah halte no 17 seperti tertera di dalam layar schedule di depan terminal. Bersamaan dengan sampainya bus tersebut di halte no 17, sampai jugalah saya di depan bus tersebut. Akhirnyaa, datang juga. Saya segera cipika-cipiki serta berpelukan dengan Arla dan menaiki bus tersebut. Lima menit kemudian bus tersebut langsung berangkat. Saya perhatikan penumpang yang ada disana kebanyakan adalah pegawai yang mungkin bekerja di Seville. Di dalam bus saya berdoa dan berpikir positif, "It's gonna be alright"

Terbangun dari tidur ayam saya di bus dan kembali mengecek jam sudah hampir jam 06:50 tapi bus nya masih terus melaju, kira-kira bisa sampai Seville jam berapa ya, mudah-mudahan on time ya Tuhan. Saya pun makan permen dan memejamkan mata berusaha tenang. Bangun kembali mendapati bus mulai berbelok ke basement suatu gedung. Saya sampai Alhamdulillah tepat waktu pukul 07:00 fiuuh. Saya pun naik ke lantai atas dan berjalan menuju halte bus dalam kota dan mencari jalur bus A2 menuju Station Santa Justa. Setelah tanya sana-sini dan berjalan mencari haltenya, saya menemukan lambang A2 dan naik bus di halte tersebut. Sialnya kenapa bisa lupa tanya dulu sebelum masuk bus, baru duduk di bus saya bertanya ke orang sebelah arah dan stop Santa Justa di nomor berapa. Dan ajaibnya walaupun berbahasa inggris terbata-bata, ibu yang saya tanyai menggelengkan kepala dan menunjukkan ke arah luar jalan, ya menunjukkan jalur yang seharusnya saya naiki. Kacauu, saya salah naik bus. Akhirnya saya cepat turun di halte berikutnya dan menyebrang jalan menuju halte A1. Tidak mau mengulang kesalahan sebelumnya saya menyebutkan Santa Justa ke petugas dan setelah petugasnya mengangguk barulah saya masuk ke dalam bus. Mata saya ga lepas melihat peta bus, dan menandai berapa halte lagi, karena pronunciation bahasa spanyol dan tulisan lisan yang tertera dilayar depan bus beda banget, ga familiar di kuping, kadang saya juga bingung mencocokkan antara suara pengumuman halte dengan nama yang tertera di dalam peta.

Pukul 08:00 bus berhenti di halte transit, si driver keluar bus dan bergabung dengan driver lainnya di luar sana. Saya lihat dia mengobrol dan merokok. Keringetaaan. Hayo dong jalan lagi. Lima belas menit kemudian saya masih di tempat yang sama. Si driver masih berkerumun dengan perkumpulan drivernya.. Muleeeeeesss.

Singkat cerita driver kembali ke bus dan saya sampai di Santa Justa pukul 08:30. Saya berlari ke arah loker, saya berlari lagi ke shuttle bus menuju airport, saya berlari lagi ke bagian check in Ryan Air..

Bercerita tentang Ryan Air akan membuat saya makin muleeeeess.

Seperti pengalaman naik Ryan Air sebelumnya dari Barcelona ke Seville, sebelum check in baggage, petugas meminta saya (seorang pemilik passport non EU) untuk memeriksa dokumen ke bagian "Document check counter". Yang dicek adalah passport, visa, tiket dan bagasi. Ga penting juga sih menurut saya. Buat apa toh bisa dilakukan di check in counter juga.

Pukul 09:05 saya sampai di Seville Airport dan langsung menuju bagian "Document check counter" untuk mempersingkat waktu. Langsung saya berikan kelengkapan berkas beserta boarding pass dan bilang "Could you please check it quickly, hope I can catch my flight." Petugas pun langsung mengangkat telpon di dekatnya dan berbicara bahasa Spanyol. Ya bagus mudah-mudahan dia bisa langsung koordinasi dengan ground-crew nya. Dia mengangguk dan memberikan semua dokumen saya. Kemudian saya langsung menuju bagian check in counter. Seketika saya sampai depan counter, seketika itu juga petugasnya berdiri, keluar counter, menutup pintu counter, Damn.

Me :  Hi, i wanna check in my baggage, this is my boarding pass. 
Her :  Sorry, we're closed. 
Me :  But i already did web check in, i just want to drop my baggage. 
Her : Sorry, you can't, you have to contact our ground crew.
Me : What do you mean?
Her : You have to buy for next flight or pay for extra baggage
Me : How much? 
Her : Fifty Euros
Me : What Fifteen Euros?
Her : No, Fifty Euros

No way.

Saya berpikir, gimana ini ya.. Kalau naik bus ke Paris perlu berapa lama ya, berapa uangnya, beli tiket pesawat baru juga berapa, pasti makan waktu nunggu lagi. Perlu google atau  tanya informasi untuk mengatur semua itu lagi. Sepersekian detik saya berpikir cepat dan memutuskan untuk berusaha melakukan lobby ke ground crew nya.

Saya pun membawa badan, backpack yang berat di pundak serta day pack saya menuju pemeriksaan tas. Pemeriksaan paling rempong dengan banyak barang bawaan, semua jaket dan boot dilepas kemudian dipakai lagi. Pretty D*mn..

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, saya menuju gate Ryan Air, saya bertemu cewek spanyol yang satu bus dengan saya saat menuju ke airport, saya bercerita bahwa saya dikatakan terlambat check in, padahal saya datang tepat waktu, saya sudah punya boarding pass, saya sudah beli bagasi. masa saya harus bayar 50 euro lagi, yang bener aja. Si cewek Spanyol itu pun terkejut, 50 euro? iya 50 euro Ok saya akan bantu kamu bicara dengan ground crew nya. Dia mengantar saya masuk ke gate Ryan Air walaupun kami tidak satu pesawat. Saya melewati antrian masuk pesawat dan menuju ground crew untuk boarding lounge terakhir kali.

Khusus Ryan Air, tidak ada salahnya untuk datang ke airport lebih cepat, karena seperti pengalaman saya dengan pesawat ini sebelumnya rute Barcellona-Seville. Segeralah mengantri saat gate terbuka, karena makin cepat kita datang, makin depan antrian, kita bisa memilih seat sendiri agar tidak perlu berjalan jauh di bagian belakang pesawat ataupun rebutan menaruh cabin baggage. Kalau pernah mendengar ada pesawat yang tidak ada nomor seat, Ryan air inilah pesawatnya. Sumpah rusuh banget saat penumpang masuk pesawat. Langkah cepat, duduki seat, taruh bagasi di atas cabin. Bisa jadi cabin ga muat karena penumpang banyak yang tidak mau membeli bagasi dan memanfaatkan cabin semaksimal mungkin.

Cewek Spanyol itu berbicara dengan bahasa Spanyol menjelaskan ke petugas, namun tidak ada yang berubah. Dia bilang karena ini adalah budget airlines maka peraturan tetap peraturan yang strict, we can't do anything. Saya berterima kasih kepada cewek Spanyol itu dan dia harus kembali ke waiting room pesawatnya, tinggalah saya yang berhadapan dengan petugas dodol tersebut. Saya tetap kekeuh bilang kalau saya sudah punya bagasi, lalu kenapa saya harus beli bagasi lagi. Dan harganya itu loh 50 euro. "Hey c'mon, i bought my ticket only 15 euros and also my baggage, why should I buy another 50. My ticket even cheaper than."

Dengan berat hati dan ga tega saya menyerah dan menjulurkan uang yang bentuknya panjang dan lebar bernilai 50 yang saya sayang-sayangin di dompet. Uang jaga-jaga yang tidak saya keluarkan bahkan tidak untuk belanja. Saat memberikan uang itu saya berkata. "I don't need to que, right? and i will drop my baggage here". Yes, you don't need to que but you should bring your baggage until you meet the ground crew there. >>> Whaaaatttt.

Petugas itu menaruh tag warna merah bertuliskan 50. Kampruuung memang. Saya rugii bandar, uang saya plus berat backpacknya huhuhu. Saya membawa backpack berat yang terasa semakin berat dengan tag merah tulisan 50 itu, malunya karena merasa orang-orang di belakang saya ngomongin dan mungkin iba kepada saya karena tag merah itu.

Ryan Air ini benar-benar ya, untuk menekan biaya mereka tidak menyediakan shuttle bus dari airport ke pesawat, sehingga saya harus berjalan jauh sekitar 300 meter dengan backpack. *nangisss*

Sesampai di bawah pesawat, saya langsung menuju petugas trolley. Apa sih tugasnya mereka cuma mindahin tas saya ke pesawat di atasnya, saya capek jalan jauh bawa-bawa backpack. Pengen nabok udara.

Saya duduk di pesawat serasa mimpi dengan petir di siang bolong, inhale-exhale, mungkin untuk bisa sampai ke tempat yang indah harus melalui hal yang ga enak dulu ya.

Dua jam kemudian pesawat mendarat di Airport Paris-Beauvais.

Seluruh penumpang berjalan jauh lagi mulai dari turun pesawat ke airport tanpa shuttle bus. Ryan Air pelit banget sumpaaaahhh mamen.

Saya mengambil backpack ber-tag merah itu dengan perasaan antara lega dan senyum pilu 50 euro

Ayooo berjuang 1,5 jam lagi menuju pusat kota Paris dari airport. Semangat traveling lagi.

P.S : Lebih lengkap cerita tentang budget airlines disini >>> looking-for-low-cost-budget-airlines 

Sesampainya di St Christoper Hostel 
Hi Oli, I'm in Paris now,  see you.  Message Sent.

Looking For Low Cost/ Budget Airlines in Europe?

Enam belas hari bukanlah jumlah waktu yang ideal untuk mengunjungi benua Eropa secara keseluruhan. Sayangnya sebagai pekerja kantoran yang cutinya terbatas 12 hari ditambah tabungan beberapa cuti tahun lalu yang sengaja tidak saya ambil, dikurangi banyaknya cuti bersama yang semaksimal mungkin juga saya tidak ambil di tahun lalu, membuat saya harus memaksimalkan waktu yang ada untuk menjelajahi beberapa tempat di Eropa (sedikit curcol :p)

Dengan keterbatasan waktu yang saya punyai, saya harus mengatur moda transportasi antar kota antar negara, waktu tempuh, rute dan juga biayanya, sehingga setelah membandingkan dengan harga tiket kereta dan bus, saya memilih beberapa budget airline yang memenuhi 2 syarat : 1. Hemat Waktu 2. Hemat Biaya. Akan tetapi namanya juga budget airlines ada beberapa keterbatasan dari airlines ini karena biasanya airport yang kecil dan agak jauh dari kota sehingga kita perlu mempertimbangkan waktu dan biaya ke dan dari airport. Mengenai bagasi juga biasanya harga pesawat belum termasuk biaya bagasi, harga akan sangat murah jika tidak menggunakan bagasi tetapi aturannya pun sangat ketat karena jika tidak membeli bagasi  kita hanya boleh membawa 1 tas saja (ya hanya 1 tas saja). Peraturan mengenai  1 tas ini sangat strict untuk budget airlines di Eropa, jika hanya boleh 1 tas dimensi kabin seberat 7 kg maka tas jinjing dihitung juga sebagai 1 tas. Silahkan baca dengan seksama aturan bagasi dan check in nya, karena akan timbul masalah jika kita telat check in atau kelebihan berat dan dimensi bagasi.

Berikut pengalaman saya sendiri saat mencoba beberapa budget airline di Eropa :


Sebagai maskapai penerbangan milik Turki, rute pegasus banyak melayani antar kota di wilayah turki dan beberapa rute yang menyambungkan turki ke beberapa kota di eropa seperti Germany, Holland, Greece, Italy, France, dll. Saya sendiri memilih Pegasus Airlines untuk rute Istanbul S Gokcen- Nevshehir, Izmir- Istanbul S Gokcen, Istanbul S. Gokcen - Rome Fuminicino dan Paris Orly - Istanbul S. Gokcen. Satu yang saya sangat ingat tentang pegasus airlines ini adalah sistem prosedur keselamatan, bukan seperti airlines lainnya yang hanya menampilkan peragaan keselamatan oleh pramugara/pramugari dengan halo-halo informasi yang menggema di pesawat. Pegasus Airlines menampilkan informasi prosedur keselamatan berupa video lucu yang diputar pada monitor bawah cabin. Video 1 diperagakan dengan artis yang memakai seragam pramugara/pramugari, pilot, chef hingga penumpang pesawat yang semuanya anak-anak. Gerakan dan aksen kata-kata yang keluar dari anak-anak itu lucu sekali. Video 2 diperagakan oleh pramugara/pramugari dewasa tapi dengan baju lebih sporty yang penuh dengan tarian dan nyanyian hingga contoh cara menyelamatkan diri melalui pintu darurat, meniti pinggir pesawat hingga meluncur dengan balon karet dari  pesawat ke laut. Sangat atraktif sehingga kita lebih mengerti prosedur keselamatan dengan contoh tersebut dan pastinya tidak bosan.

Web check in pegasus airlines bisa dilakukan minimal 48 jam sebelumnya, jika tidak sempat atau tidak keburu web check in, airport menyediakan booth self check in yang bisa dipakai. Di Istanbul karena booth-nya banyak, biasanya petugas meminta kita self check in sendiri, setelah itu baru melayani masuk bagasi di loket check in.

Ada satu catatan jika menggunakan check in baggage dan bagasinya berupa backpack agar merapihkan tali temali serta menguatkan ikatannya agar tidak tersangkut ke conveyor. Lebih bagus lagi kalau kita punya cover bag dan conveyor belt sehingga backpack masuk bagasi dengan kondisi rapih. Saya pernah dijutekkin check in crew di bandara Paris saat menaikkan backpack dengan kondisi tali backpack yang kurang kencang, dia contohkan cara menarik klipnya. Sumpah galak bener. 

Pesawat milik Belanda ini melayani rute ke Austria, Czech Republic, Bulgaria, Cyprus, Denmark, Finland, France, Spain, Egypt,Italy, Switzerland dan lainnya. Saya mengambill rute Rome Fiumicino - Rotterdam/ The Hague dan Rotterdam - Barcelona

Untuk urusan check in Transavia, web check in baru dibuka 4- 23 jam sebelumnya atau bisa dilakukan di airport maksimal 1 jam sebelumnya. Saya sempat berpikir budget airlines Asia lebih canggih karena kita bisa early check in kapan saja (two thumbs up buat AA :)

Oiya saat mau masuk area check in Transavia, ada petugas yang memeriksa tiket termasuk pengecekan awal bagasi. Ketentuan hanya ada 1 cabin baggage berlaku ketat pada airlines ini. Saat mau masuk memang saya membawa 1 backpack, 1 daypack dan 1 paper bag isi jaket H&M yang saya beli muree di Amsterdam. Si mbak petugas Transavia tidak memperbolehkan saya masuk karena adanya 1 paperbag tersebut dan menunjukkan ke gambar "only 1 cabin baggage". Jadilah saya pakai jaketnya dan saya masukkan beberapa barang pritilan ke dalam daypack dengan extra umpel-umpelan, fiuuh. Setelah itu dia memberikan 1 tag untuk day pack dan tag backpack untuk check in baggage.



Kurang lebih pelayanan dan ketentuannya sama dengan budget airlines lainnya, tapi khusus untuk Ryan Air detail akan saya ceritakan tersendiri hihiii..


Reference :
http://www.skyscanner.co.id/ >> untuk melihat perbandingan airlines berdasarkan rute, waktu dan biaya